July 22, 2010 at 8:59 am · Filed under Keseharian, Kutipan, Opiniku
Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja
Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada
Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu
Gema adzan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi
Iwan Fals [Album Sugali 1984]
June 28, 2010 at 6:50 pm · Filed under Cerita, Inspirasi Bisnis, Kuliner, Sharing
Tentang hasrat ingin tambil beda dalam era penuh persaingan. Bisnis kuliner saat ini bak cendawan di musim penghujan. Mulai dengan ’street food’ dimana-mana, hingga kuliner berkelas di resto dan hotel berbintang. Aneka menu andalan ditawarkan. Seringkali tak hanya lezat, tapi juga unik. Berharap sukses menghadirkan pengalaman kuliner yang berkesan. Maka bisnis kuliner pun tidak saja dianggap paling stabil menghadapai hantaman badai krisis (sekrisis apa pun orang tetap butuh makan), namun juga tantangan menyajikan hidangan bercitarasa dan ‘berdekorasi’ unik nan menawan serta berkelas.
Pak Ali: “Aku mau buka kios franchise nasi goreng yang beda!”
Ibu Ali: “Beda gimana? bumbunya atau bahannya?”
Pak Ali: “Cara pengolahannya!” Jawab Pak Ali mantab.
Ibu Ali: “Oh, tahapan penggorengannya?”
Pak Ali: “Gak! Nasi goreng buatanku gak digoreng, unik-kan?”
Ibu Ali: “Unik dari Hongkong?!”
Pak Ali: “Begini, nasi aku buat bisa tampil tak lengket/punel alias ‘ampyar’, selagi hangat aku aduk dengan bumbu-bumbu yang bisa menyatu (seperti preparasi membuat salad) tanpa digoreng hingga secara tampilan nampak seperti digoreng tapi sama sekali tak digoreng hingga bebas minyak dan rasa ‘lengket bawaan minyak’ di lidah serta tenggorokan. Singkat kata, selezat dan secantik nasi goreng, namun mudah dan cepat disiapkan serta tetap sehat, bagaimana?”
Ibu Ali: “Whatever-lah!”
April 26, 2010 at 11:39 am · Filed under Aku dan Puisiku, Keseharian
Dalam amuk badai ketidakpastian,
aku bersamamu.
Ketika terancam sesal mengambang,
senyummu kembali membayang.
Lekat tersemat dalam hasrat yang ‘tlah lama tamat,
menghempaskan rindu yang lalu-lalu.
Melompati masa tanpa terasa,
hanya riang melayang.
Di balik hujan kusadari teduhmu,
yang tak mungkin terganti bidadari terjanji.
Muliamu melampauinya,
justru karena engkau perempuan apa adanya.
March 30, 2010 at 1:17 pm · Filed under Keseharian, Opiniku

Tentang hasrat yang selalu ingin terhubung. Yang begitu mendominasi imajinasi manakala belum terlakoni. Memperkosa atensi agar terus tertuju padanya. Hingga tertuntaskan.
Namun seringkali lanjutannya adalah kehambaran. Atas nama sudah pernah, bosan atau ‘jlekethek’ alias tak sesuai ekspektasi. Ini tentu lumrah dan bahkan bermanfaat, kerana padanya memunculkan hasrat/penasaran berikutnya. Sebentuk atribut rasa yang patut dinikmati sekaligus disyukuri.
Tapi bagaimana pun juga, selalu ingin terkoneksi akan memaksa kesadaran kita untuk terus menegang. Atau paling tidak bersiap memberikan respon seperlunya pada lawan terhubung kita. Di samping itu terkadang kita ‘dipaksa’ menggali mata air materi yang dikomunikasikan. Beruntung apabila kita memiliki aliran materi komunikasi tanpa henti dan tak usah menggali, tapi tetap saja berpotensi menghadirkan lelah dan mungkin jenuh.
Terhunung itu memang suatu saat ada enaknya, namun tak terhubung itu juga mempunyai sensasi nikmat tersendiri, di samping memang harus untuk suatu masa terntentu. Masa sedimentasi rasa, berkawan dengan tenang jiwa. Jadi yang paling menyenangkan adalah tak ada hambatan akses (dari mana saja dan kapan saja), namun kejadian/prosesinya sesuai keinginan kita. Enak bukan?
Ditulis via Wordpress for Android
March 19, 2010 at 12:29 am · Filed under Opiniku

“A system stops being a superposition of states and becomes either one or the other when an observation takes place.”
Copenhagen Interpretation
Kita menyebutnya “Tragedi Buah Simalakama”. Bahwa hidup bukan saja masalah pilihan, namun juga interprestasi dari yang menjalaninya. Pilihan yang tersedia sering kali hanyalah akibat dari tindakan interprestasi. Di sini bukan saja keluasan pengetahuan yang berperan, namun juga artefak rasa yang menempanya selama ini. Sedangkan bahasan mengenai kehendak-NYA bukan kita tak hirau, namun itu adalah kemutlakan yang berada di luar jangkauan kita.
Fenomena paradoksial bukan saja suatu kemungkinan, namun kepastian untuk semua kejadian. Sebentuk hakekat kehidupan. Kalau pada suatu keadaan kita nampaknya tak terbentur olehnya, tersedia satu jalan lapang di depan mata, itu hanyalah dikarenakan kita telah menjatuhkan opsi hanya padanya, yang berarti menisbikan yang sebaliknya [Dirac Delta Function].

Di jalur itu pun setelah kita jalani kemudian, maka akan muncul paradoks lanjutan yang nyaris tanpa ujung, hingga kita menjatuhkan pilihan [lagi] dan atau kita telah berada di ujung jalan [kematian].
Oleh karena itulah kita disarankan berbesar hati kala berhadapan dengan kesulitan dan bersadar diri kala sukses tercipta. Bersiap untuk zoom in ketika zoom out dan begitu pula sebaliknya. Tak mungkin bagi kita melakukan keduanya secara bersamaan. Berayun-ayun di antara amplitudo adalah pendulum kehidupan. Dengan demikian, “Tragedi Buah Simalakama” tak lagi membimbangkan langkah kita, karena yang lebih penting dari ayunan langkah adalah interprestasi kita atas ayunan langkah itu. Maka tersenyumlah…nikmati setiap langkah yang terayun dan bersiap berjumpa Kucing-kucing Schrodinger yang menghampiri tiada henti!


March 15, 2010 at 7:12 pm · Filed under Kutipan

It is more important to have beauty in one’s equations than to have them fit experiment.
Paul Dirac
March 15, 2010 at 12:57 pm · Filed under Inspirasi Bisnis, Keseharian, Opiniku

Agar udara segar itu sudi berhembus mengusir penat dan jenuh. Teman Almarhum Bapak Mertua adalah seorang pelukis terkenal dari Surabaya. Menurut beliau, aktivitas melukis pun tak bebas penat dan jenuh serta menghadapi kebuntuan ide maupun hasrat. Padahal orang banyak mengira kalau pekerjaan sebagai pelukis itu menyenangkan, hobi/kegemaran yang dibayar, yang seharusnya tak bersua jenuh itu.
Sementara itu, seorang penjaga loket jalan tol bisa saja sangat jarang menemui jenuh bila dia menyikapi aktivitas kesehariannya dengan mengamati model-model mobil terbaru yang menghampirinya setiap hari, atau mendengarkan dan melaporkan kondisi jalan tol dalam siaran traffic report di radioa FM lokal.
Begitulah, untuk jenis pekerjaan yang paling kreatif dan nampak menyenangkan serta terkesan ’semau gue’ sekali pun, menyisakan jenuh bila kita tak pintar-pintar menyiasatinya. Demikian pula sebaliknya, pekerjaan yang nampaknya membosankan akan nampak menyenangkan bila kita cerdik menyikapinya.
Untuk jenis pekerjaan/aktivitas/rutinitas apa pun, asal kita punya ‘exit window’ maka akan membuat kita tetap fresh dan bertumpuk minat untuk melakoninya. Sebentuk jendela yang mengijinkan udara segar menghampiri kita ketika penat melanda. Bagi saya itu bisa berupa Farmville dan juga benar-benar jendela nyata di sebelah kanan meja kerja saya.
March 9, 2010 at 8:53 am · Filed under Aku dan Puisiku

Aku ingin melupakanmu seperti Cemara menanggalkan dahan keringnya.
Aku ingin melepasmu seperti Kura-kura kecil menggapai samudra.
Tanpa prasangka dan pura-pura.
Tanpa pretensi, berlimpah atensi.
Tanpa sumir, menisbikan sia-sia.
Alir alur alam terbenam.
Keselarasan tanpa pemaksaan.
Keniscayaan tanpa penyesalan.
Aku ingin melupakanmu seperti Melati meluruhkan wangi.
Demi pagi berseri di hati pencinta sejati.
March 6, 2010 at 7:25 pm · Filed under Keseharian, Opiniku, Sharing
Yang tak hanya efektif dan efisien, namun juga bisa berperan sebagai antarmuka [interface] untuk menembus batas. Jika Anda programmer, tentu akan mengetahui konsep parameter. Parameter adalah tampungan [konstanta, value maupun variabel] yang bisa dipertukarkan [passing] antar prosedur/fungsi/class bahkan antar aplikasi [termasuk interoperability]. Sistem passingnya bisa by value [termasuk konstanta] maupun by reference [variabel]. Dan bila Anda sepakat bahwa prosedur tak lebih dari fungsi tanpa nilai, atau sebaliknya: fungsi adalah prosedur dengan membawa nilai, maka definisi program tak lebih dari sekumpulan fungsi/prosedur. Oleh sebab itu, parameter pun bisa dipergunakan sebagai sarana pertukaran nilai di antara mereka. Inilah konsep dasar interoperability. Asal parameter dan methodnya disepakati, maka sisanya hanya penentuan jalur komunikasinya saja.
Berbeda dengan konstanta/varibel yang dideklasikan secara global, memang dia eksis di seluruh badan program, namun kebedaraannya itu akan menjadikannya tidak efektif dan efisien. Sedangkan parameter cukup dideklarasikan dalam prosedur/fungsi lokal/private saja. Dan jika hendak diperlukan oleh fungsi/prosedur/program lain, dia baru di-passing.
Hal ini mengingatkan saya akan konsep Ar-Rohman dan Ar-Rohim-NYA. Yang pertama disebar dan diberikan kepada siapa saya. Mirip dengan konsep varibel global yang bisa diambil oleh fungsi/prosedur mana saja. Sementara yang kedua hanya bagi mereka yang bterpilih. Lebih spesifik passing-nya. Untuk mendapatkan value melalui mekanisme passing parameter, tentu untuk ini butuh effort/upaya lebih dari sekedar mengambil nilai dari varibel global. Namun dampaknya bukan saja disediakannya keleluasaan di satu badan program [dunia], namun juga kesempatan berperan sebagai antarmuka/interface untuk melintas batas [antar alam kehidupan]. Inilah prinsip dasar mekanisme interkoneksi, di samping masalah jalur/media.
March 4, 2010 at 9:21 am · Filed under Aku dan Puisiku
Ketika kemarau tak lagi menanti badai kelam berawan.
Cerdik pandai tak sudi berbagi.
Kaya-raya canggung dalam enggan tertahan.
Dan sang pencinta tak lagi merindukan kekasihnya.
Tiba saatnya tunas-tunas bumi mati.
Ilmu diangkat kelangit tanpa pamit.
Cinta nelangsa terbengkalai
Dan bait-bait syair pun mubazir.
Hidup tinggallah helaan nafas, terengah tanpa hikmah.
Hasrat yang semburat tak sempat tertambat hakekat.
Next entries »