inicio mail me! sindicaci;ón

Schrödinger’s Cat

“A system stops being a superposition of states and becomes either one or the other when an observation takes place.”

Copenhagen Interpretation

Kita menyebutnya “Tragedi Buah Simalakama”. Bahwa hidup bukan saja masalah pilihan, namun juga interprestasi dari yang menjalaninya. Pilihan yang tersedia sering kali hanyalah akibat dari tindakan interprestasi. Di sini bukan saja keluasan pengetahuan yang berperan, namun juga artefak rasa yang menempanya selama ini. Sedangkan bahasan mengenai kehendak-NYA bukan kita tak hirau, namun itu adalah kemutlakan yang berada di luar jangkauan kita.

Fenomena paradoksial bukan saja suatu kemungkinan, namun kepastian untuk semua kejadian. Sebentuk hakekat kehidupan. Kalau pada suatu keadaan kita nampaknya tak terbentur olehnya, tersedia satu jalan lapang di depan mata, itu hanyalah dikarenakan kita telah menjatuhkan opsi hanya padanya, yang berarti menisbikan yang sebaliknya [Dirac Delta Function].

Di jalur itu pun setelah kita jalani kemudian, maka akan muncul paradoks lanjutan yang nyaris tanpa ujung, hingga kita menjatuhkan pilihan [lagi] dan atau kita telah berada di ujung jalan [kematian].

Oleh karena itulah kita disarankan berbesar hati kala berhadapan dengan kesulitan dan bersadar diri kala sukses tercipta. Bersiap untuk zoom in ketika zoom out dan begitu pula sebaliknya. Tak mungkin bagi kita melakukan keduanya secara bersamaan. Berayun-ayun di antara amplitudo adalah pendulum kehidupan. Dengan demikian, “Tragedi Buah Simalakama” tak lagi membimbangkan langkah kita, karena yang lebih penting dari ayunan langkah adalah interprestasi kita atas ayunan langkah itu. Maka tersenyumlah…nikmati setiap langkah yang terayun dan bersiap berjumpa Kucing-kucing Schrödinger yang menghampiri tiada henti!

Indah Itu Hakekat

It is more important to have beauty in one’s equations than to have them fit experiment.

Paul Dirac

Exit Window

Agar udara segar itu sudi berhembus mengusir penat dan jenuh. Teman Almarhum Bapak Mertua adalah seorang pelukis terkenal dari Surabaya. Menurut beliau, aktivitas melukis pun tak bebas penat dan jenuh serta menghadapi kebuntuan ide maupun hasrat. Padahal orang banyak mengira kalau pekerjaan sebagai pelukis itu menyenangkan, hobi/kegemaran yang dibayar, yang seharusnya tak bersua jenuh itu.

Sementara itu, seorang penjaga loket jalan tol bisa saja sangat jarang menemui jenuh bila dia menyikapi aktivitas kesehariannya dengan mengamati model-model mobil terbaru yang menghampirinya setiap hari, atau mendengarkan dan melaporkan kondisi jalan tol dalam siaran traffic report di radioa FM lokal.

Begitulah, untuk jenis pekerjaan yang paling kreatif dan nampak menyenangkan serta terkesan ’semau gue’ sekali pun, menyisakan jenuh bila kita tak pintar-pintar menyiasatinya. Demikian pula sebaliknya, pekerjaan yang nampaknya membosankan akan nampak menyenangkan bila kita cerdik menyikapinya.

Untuk jenis pekerjaan/aktivitas/rutinitas apa pun, asal kita punya ‘exit window’ maka akan membuat kita tetap fresh dan bertumpuk minat untuk melakoninya. Sebentuk jendela yang mengijinkan udara segar menghampiri kita ketika penat melanda. Bagi saya itu bisa berupa Farmville dan juga benar-benar jendela nyata di sebelah kanan meja kerja saya.

:D

Melepasmu

Aku ingin melupakanmu seperti Cemara menanggalkan dahan keringnya.
Aku ingin melepasmu seperti Kura-kura kecil menggapai samudra.

Tanpa prasangka dan pura-pura.
Tanpa pretensi, berlimpah atensi.
Tanpa sumir, menisbikan sia-sia.
Alir alur alam terbenam.
Keselarasan tanpa pemaksaan.
Keniscayaan tanpa penyesalan.

Aku ingin melupakanmu seperti Melati meluruhkan wangi.
Demi pagi berseri di hati pencinta sejati.

Parameter

Yang tak hanya efektif dan efisien, namun juga bisa berperan sebagai antarmuka [interface] untuk menembus batas. Jika Anda programmer, tentu akan mengetahui konsep parameter. Parameter adalah tampungan [konstanta, value maupun variabel] yang bisa dipertukarkan [passing] antar prosedur/fungsi/class bahkan antar aplikasi [termasuk interoperability]. Sistem passingnya bisa by value [termasuk konstanta] maupun by reference [variabel]. Dan bila Anda sepakat bahwa prosedur tak lebih dari fungsi tanpa nilai, atau sebaliknya: fungsi adalah prosedur dengan membawa nilai, maka definisi program tak lebih dari sekumpulan fungsi/prosedur. Oleh sebab itu, parameter pun bisa dipergunakan sebagai sarana pertukaran nilai di antara mereka. Inilah konsep dasar interoperability. Asal parameter dan methodnya disepakati, maka sisanya hanya penentuan jalur komunikasinya saja.

Berbeda dengan konstanta/varibel yang dideklasikan secara global, memang dia eksis di seluruh badan program, namun kebedaraannya itu akan menjadikannya tidak efektif dan efisien. Sedangkan parameter cukup dideklarasikan dalam prosedur/fungsi lokal/private saja. Dan jika hendak diperlukan oleh fungsi/prosedur/program lain, dia baru di-passing.

Hal ini mengingatkan saya akan konsep Ar-Rohman dan Ar-Rohim-NYA. Yang pertama disebar dan diberikan kepada siapa saya. Mirip dengan konsep varibel global yang bisa diambil oleh fungsi/prosedur mana saja. Sementara yang kedua hanya bagi mereka yang bterpilih. Lebih spesifik passing-nya. Untuk mendapatkan value melalui mekanisme passing parameter, tentu untuk ini butuh effort/upaya lebih dari sekedar mengambil nilai dari varibel global. Namun dampaknya bukan saja disediakannya keleluasaan di satu badan program [dunia], namun juga kesempatan berperan sebagai antarmuka/interface untuk melintas batas [antar alam kehidupan]. Inilah prinsip dasar mekanisme interkoneksi, di samping masalah jalur/media.

K.I.A.M.A.T

Ketika kemarau tak lagi menanti badai kelam berawan.
Cerdik pandai tak sudi berbagi.
Kaya-raya canggung dalam enggan tertahan.
Dan sang pencinta tak lagi merindukan kekasihnya.

Tiba saatnya tunas-tunas bumi mati.
Ilmu diangkat kelangit tanpa pamit.
Cinta nelangsa terbengkalai
Dan bait-bait syair pun mubazir.

Hidup tinggallah helaan nafas, terengah tanpa hikmah.
Hasrat yang semburat tak sempat tertambat hakekat.

Dungu

Tentang aku yang terus belajar bersyukur. Jam dua belas malam kemarin, selepas guyuran hujan, aku pulang dari seorang klien. Sempat terlintas dalam benak tentang masih terjalnya jalan ke depan. Jalanan yang lengang semakin membuat suasana hati makin sendu.

Ketika melintas di daerah persawahan tanpa penerangan jalan, terhenyak ada sekelebatan bayangan putih. AstaghfiruLLAH…ternyata itu adalah dua buah karung besar yang sedang dipikul seorang bapak usia senja di gulitanya malam.

Di balik lipatan rasa, ada dialog diri yang terjadi. “Jangan berkeluh-kesah, ada yang keadaannya lebih berat darimu!” “Tapi aku bukanlah seperti bapak itu. Aku adalah orang berpendidikan. Sementara bapak itu mau melakukan pekerjaan yang ‘menyengsarakan’ itu karena keterbatasannya. Dia tak ada pilihan. ‘Kebodohannya’ yang memaksanya.”

Tiba-tiba ada suara tegas menyela: “Dungu! Kamu itu dungu sekali! Semua yang telah menimpamu selama ini tak jua menyadarkanmu kalau segala upaya dalam hidup tidak mesti dirumuskan dalam formula usaha=>hasil yang kamu sangkakan saja.”

Seketika aku menarik kembali keluh-kesahku tadi. Sebentuk tamparan dariNYA menyadarkanku. Sebentuk kedunguan yang tak bisa memahami pelajaran hakekat dari bapak tua pemikul karung putih di kelamnya gulita malam itu.

Setiamu

Di kala semua tak percaya,
kau bertahan tanpa diminta.

Ketika yang lain bimbang,
kau buat dada ini tetap lapang.

Saat tak ada lagi yang hirau,
lantangmu tak pernah parau.

Di waktu tak tersisa abai,
setiamu tak pernah usai.

Bersama melangkah menggapai hikmah,
walau cemooh menghujat kita telah kalah.

Bertekad yang terbaik menanti,
walau senyuman tak pernah berjanji.

Dan air mata ini pun bergulir,
atas semua tulus yang telah terhadir.

Untuk Mahasiswa Indonesia

Senyummu

Renyah senyummu di pagi ini
Meringankan beban yang membayang
Sumringah wajahmu yang berseri
Mengusir cemas dan bimbang

Daud yang siap menantang Goliath
Menaklukan apa saja yang menghadang
Memenuhi rongga dada dengan tekad
Berdegap dalam tabuh genderang

Menjemput purnama di tepian cakrawala peradaban
Dan meletakkanya di pangkuanmu yang bergelimang kedamaian

String

The Power of Conversion. Dalam kebanyakan bahasa pemrograman, kita perlu mendeklarasikan suatu variabel beserta tipe-datanya. Agar interpreter atau compiler mengenalinya hingga mudah menanganinya, termasuk masalah kesesuaian dalam pemasangan operator dengan operan serta masalah efektivitas dan efisiensi alokasi memori.

Dalam PHP, deklarasi varibel tak dibutuhkan lagi, sebab tipe-data dari sebuah variabel akan ditentukan secara otomatis oleh PHP tergantung pada operasi yang sedang dilakukan, atau [dengan kata lain] tergantung pada operator yang dikenakan padanya.

Jika data harus disimpan dalam suatu database maka pada arsitektur/strukturnya juga diberlakukan penerapan tipe-data atas column/field/atribut. Bila gak sesuai/pas, maka akan timbul error atau pemotongan value bila berhubungan dengan tingkat ketelitian.

Padahal menurut saya, hanya satu tipe-data yang dibutuhkan baik dalam program maupun database, yaitu string/varchar/text atau turunannya memo/blob/bigtext dan seterusnya. Sebut saja: string!

Ide dasarnya sederhana, yang kita baca dan tulis itu adalah text. Text bukan saja kumpulan huruf dan tanda baca, namun juga angka. Ketika membaca angka [termasuk currency dan date] sebenarnya kita memberlakukan mereka sebagai text. Tidak lebih dan juga tidak kurang. Adapun ketika kita membutuhkan mereka dioperasikan sebagai angka, maka yang kita butuhkan adalah hanya sekedar konversi.

baca:=datetimetostr(DateTimePicker1.DateTime);
DateTimePicker2.DateTime:=strtodatetime(baca);

Begitu pula ketika data harus keluar masuk database, simpan di database hanya sebagai string, lalu konversikan sesuai dengan yang dimau dalam proses di program.

Dengan demikian deklarasi yang berkenaan dengan tipe-data suatu varibel menjadi tak penting lagi, kalau pun harus, maka sekali lagi sebenarnya hanya memerlukan satu tipe-data saja, yaitu string. Sebab hakekatnya, setelah bergumul dalam aneka proses, akhirnya toh perlu ditampilkan atau disimpan [kembali] ke database dan itu hanya butuh string saja.

Edit3.Text:=inttostr(strtoint(Edit1.Text)+strtoint(Edit2.Text));

Atau kalau dalam database:

MySQLQuery1.ParamByName(‘gaji’).AsString :=Edit1.Text;

walau pada umumnya dalam struktur tabel, kolom ‘gaji’ biasanya bertipe-data double dua decimal misalnya. Dengan demikian fokus kita hanya pada mau dioperasikan dengan bagaimana suatu operan itu.

Begitulah, adakalanya ‘kulit/tampilan lebih penting/menentukan daripada isinya/prosesnya’. Bingung? Gak usah. Hakekat itu bisa ada dimana/kapan/dengan cara apa saja, namun seringkali dia akan memamerkan keelokannya justru dalam kemudahan dan kesederhanaannya.

Next entries »