
Secara umum keduanya sering dianggap memiliki konotasi kurang baik karena berasosiasi pada kemarahan. Namun, terkadang terjadi begitu saja pada diri kita. Marah memang bagian dari emosi dasar manusia. ‘Salah dua’ turunannya adalah NGAMuk dan NGAMbul itu tadi.
NGAMuk adalah prosesi melampiaskan kemarahan yang dengan jelas bisa kita identifikasi. Objek yang dikjadikan sasaran NGAMuk bisa saja adalah sesuatu yang menjadi penyebab timbulnya kemarahan itu, namun terkadang bisa pula ‘objek alihan’, seperti NGAMuknya seorang istri pada suaminya yang kurang dalam memberikan uang belanjaan justru pada tukang sayur langganannya yang tidak menyisakan tempe-tahu dan malah justru daging sapi yang harganya tak terjangkau [halah !].
Sedangkan NGAMbul, meski marah, si pelaku berusaha menyembunyikannya, terutama pada seseorang yang menjadi penyebab kemarahannya. Kalaupun dia memutuskan menampakkannya, dia lebih memilih dalam tampilan tersamar. Lebaran ini, kakak kemenakan saya, NGAMbul pada suaminya karena permintaannya agar dibelikan sepeda motor tidak diloloskan. Dia NGAMbul dengan datang ke rumah orang tua saya dan menginap sehari. Begitulah, orang yang NGAMbul biasanya berusaha mengirimkan ’sinyal kemarahaannya’ kepada pihak yang menyebabkannya secara tidak langsung. Jadi, masalah kejelasan pesan, tentu NGAMuk memiliki derajat kejelasan pesan yang lebih tinggi jika dibandingkan NGAMbul. Nggak juga sih, ada orang yang NGAMuk tapi nggak jelas maksudnya. Di lain pihak ada orang yang hanya perlu melakukan teguran dengan menyindirnya [baca : 'NGAMbul halus'] dan ternyata pesannya sugguh jelas, seperti yang pernah saya singgung di sini. Mana yang lebih Anda pilih sebagai ekspresi pelampiasan kemarahan : NGAMuk atau NGAMbul ? atau enak mana jadi korban yang di-AMuk atau di-AMbul ? Weleh, itu tergantung konteksnya [SItuasi, KONdisi, TOLerasi, PANdangan dan JANGkauan] dan selera tentunya, halah !
NGAMuk dan NGAMbul ini pun memiliki banyak turunan dan variasinya. Salah satu derevatif dari NGAMuk adalah NGAMuk Seafood ala Pak Budi. Sedangkan NGAMbul sering dilakukan oleh Paman Tyo. Seperti ceramahnya di kedai sewaktu lebaran ini.
NGAMuk biasanya lebih cepat mereda jika dibandingkan NGAMbul yang cenderung berkepanjangan. Perasaan lega kerap kali mengiringi akhir episode acara NGAMuk. Tidak demikian halnya dengan NGAMbul yang bisa saja lenyap begitu saja ditelan waktu tapi tanpa diiringi perasaan lega bahkan jika maksud NGAMbulnya sudah terpenuhi. NGAMuk yang terlampiaskan akan sangat mengurangi beban rasa walaupun mungkin saja belum memberikan penyelesaian yang diharapkan.
Sebenarnya gak ada yang salah dengan NGAMuk atau bahkan NGAMbul. Petuah Bung Haji Rhoma Irama, “Yang penting tidak terlalu !” O…ya, jangan pula berlarut-larut.
Image from http://www.lifemanagement.cc
Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa




