Tentang hasrat yang selalu ingin terhubung. Yang begitu mendominasi imajinasi manakala belum terlakoni. Memperkosa atensi agar terus tertuju padanya. Hingga tertuntaskan.
Namun seringkali lanjutannya adalah kehambaran. Atas nama sudah pernah, bosan atau ‘jlekethek’ alias tak sesuai ekspektasi. Ini tentu lumrah dan bahkan bermanfaat, kerana padanya memunculkan hasrat/penasaran berikutnya. Sebentuk atribut rasa yang patut dinikmati sekaligus disyukuri.
Tapi bagaimana pun juga, selalu ingin terkoneksi akan memaksa kesadaran kita untuk terus menegang. Atau paling tidak bersiap memberikan respon seperlunya pada lawan terhubung kita. Di samping itu terkadang kita ‘dipaksa’ menggali mata air materi yang dikomunikasikan. Beruntung apabila kita memiliki aliran materi komunikasi tanpa henti dan tak usah menggali, tapi tetap saja berpotensi menghadirkan lelah dan mungkin jenuh.
Terhunung itu memang suatu saat ada enaknya, namun tak terhubung itu juga mempunyai sensasi nikmat tersendiri, di samping memang harus untuk suatu masa terntentu. Masa sedimentasi rasa, berkawan dengan tenang jiwa. Jadi yang paling menyenangkan adalah tak ada hambatan akses (dari mana saja dan kapan saja), namun kejadian/prosesinya sesuai keinginan kita. Enak bukan?
Ditulis via Wordpress for Android





