“A system stops being a superposition of states and becomes either one or the other when an observation takes place.”
Kita menyebutnya “Tragedi Buah Simalakama”. Bahwa hidup bukan saja masalah pilihan, namun juga interprestasi dari yang menjalaninya. Pilihan yang tersedia sering kali hanyalah akibat dari tindakan interprestasi. Di sini bukan saja keluasan pengetahuan yang berperan, namun juga artefak rasa yang menempanya selama ini. Sedangkan bahasan mengenai kehendak-NYA bukan kita tak hirau, namun itu adalah kemutlakan yang berada di luar jangkauan kita.
Fenomena paradoksial bukan saja suatu kemungkinan, namun kepastian untuk semua kejadian. Sebentuk hakekat kehidupan. Kalau pada suatu keadaan kita nampaknya tak terbentur olehnya, tersedia satu jalan lapang di depan mata, itu hanyalah dikarenakan kita telah menjatuhkan opsi hanya padanya, yang berarti menisbikan yang sebaliknya [Dirac Delta Function].
Di jalur itu pun setelah kita jalani kemudian, maka akan muncul paradoks lanjutan yang nyaris tanpa ujung, hingga kita menjatuhkan pilihan [lagi] dan atau kita telah berada di ujung jalan [kematian].
Oleh karena itulah kita disarankan berbesar hati kala berhadapan dengan kesulitan dan bersadar diri kala sukses tercipta. Bersiap untuk zoom in ketika zoom out dan begitu pula sebaliknya. Tak mungkin bagi kita melakukan keduanya secara bersamaan. Berayun-ayun di antara amplitudo adalah pendulum kehidupan. Dengan demikian, “Tragedi Buah Simalakama” tak lagi membimbangkan langkah kita, karena yang lebih penting dari ayunan langkah adalah interprestasi kita atas ayunan langkah itu. Maka tersenyumlah…nikmati setiap langkah yang terayun dan bersiap berjumpa Kucing-kucing Schrodinger yang menghampiri tiada henti!






