Tentang aku yang terus belajar bersyukur. Jam dua belas malam kemarin, selepas guyuran hujan, aku pulang dari seorang klien. Sempat terlintas dalam benak tentang masih terjalnya jalan ke depan. Jalanan yang lengang semakin membuat suasana hati makin sendu.
Ketika melintas di daerah persawahan tanpa penerangan jalan, terhenyak ada sekelebatan bayangan putih. AstaghfiruLLAH…ternyata itu adalah dua buah karung besar yang sedang dipikul seorang bapak usia senja di gulitanya malam.
Di balik lipatan rasa, ada dialog diri yang terjadi. “Jangan berkeluh-kesah, ada yang keadaannya lebih berat darimu!” “Tapi aku bukanlah seperti bapak itu. Aku adalah orang berpendidikan. Sementara bapak itu mau melakukan pekerjaan yang ‘menyengsarakan’ itu karena keterbatasannya. Dia tak ada pilihan. ‘Kebodohannya’ yang memaksanya.”
Tiba-tiba ada suara tegas menyela: “Dungu! Kamu itu dungu sekali! Semua yang telah menimpamu selama ini tak jua menyadarkanmu kalau segala upaya dalam hidup tidak mesti dirumuskan dalam formula usaha=>hasil yang kamu sangkakan saja.”
Seketika aku menarik kembali keluh-kesahku tadi. Sebentuk tamparan dariNYA menyadarkanku. Sebentuk kedunguan yang tak bisa memahami pelajaran hakekat dari bapak tua pemikul karung putih di kelamnya gulita malam itu.




