Kesahajaan yang bukan saja membuat tak tergoncangkan, namun juga nyaris tak tersentuh. Interaksi sosial kerap kali juga menghasilkan pergesekan, saling menilai bahkan saling menghakimi. Saling usil dan melongok kondisi orang lain sudah menjadi kebiasaan. Media massa dituding ikut andil dalam menyebarkan ‘budaya usil’ ini via acara-acara gosip dan sinetron. Dan saya tak hendak membahasnya.
Saya hanya tertarik pada sebuah sifat yang jika seorang individu memilihnya sebagai pakaian diri, maka dia akan terselamatkan dari sasaran dan keburukan iri dan dengki. Yang saya maksud adalah humility, kesahajaan. Pembawaan diri yang bersahaja akan memberikan aura positif yang bisa menetralisir usil, iri, dengki dan serba mau tahu usrusan orang lain. Hakekat kesahajaan adalah ketercukupan. Semua aspek dipandang dan disikapi secukupnya: tak kurang dan tak juga lebih. Ia lebih berorientasi pada pemenuhan fungsi, bukan hasrat pamer tak terkendali. Bisa terbebas dari belenggu kemelekatan atas nama kepemilikan atas sesuatu. Ujung dari penyikapan ini adalah tertempatkannya diri di domain nyaman. Tak tersibukkan oleh godaan mau tahu urusan orang lain, dan lebih memilih menuntaskan urusan diri sendiri. Kalau pun dia tergerak dengan urusan orang lain, maka hal itu dilakukan dalam konteks hendak membantu, bukan usil, mengganggu apalagi merepotkan.
Kalau sifat iri dibolehkan, saya akan mengalamatkan iri saya pada orang-orang bersahaja ini.





