Paman betul, penyakit kita memang pada tindak lanjutnya secara nyata. Banyak yang bilang kalau kita adalah bangsa yang sangat pintar di konsep tapi sangat lemah di tindakan nyatanya. Kalau saya sendiri tidak mau yang demikian. Saya tak mau jadi orang yang merugi karena hanya berada di ranah konsep. Kebaikan, kesuksesan dan kesejahteraan adanya di ranah tindakan nyata.
“Yang kita butuhkan hanyalah kesediaan untuk memeriksanya dengan seksama dan berkesinambungan serta berani mengambil keputusan berupa tindakan nyata.”
Jadi…
Menyelamatkan mangga yang bisa diselamatkan, membuang yang tidak bisa diselamatkan, belajar dari pengalaman itu dan bangkit lagi, tak pernah menyerah !
Betul, tapi seperti kutipan di atas : “Ada tiga unsur yang secara tak terduga dan ajaib bergabung di sini.” Jadi harus ketiga-tiganya secara inheren. Bukan dari salah satunya saja. Sudut pandang juga sangat mempengaruhi. Guru yang tegas sering dilihat oleh muridnya seperti pandangan Anda. Tapi pernahkah Anda benar-benar tahu keadaan guru Anda ? Segala yang mendasari tindakannya ? Bukan hanya dari kacamata Anda saja ? Bahwa dia harus melingkupi kepentingan yang lebih besar ? Bahwa muridnya memang bengal ? Bahwa ada kondisi yang memang memaksanya ? Tapi guru pun harus memandang dari sudut pandang muridnya juga. Semuanya memang tidak bisa dilihat hanya dengan kaca mata hitam dan putih. Pilihan tidak selalu mengenakkan. Tapi bagaimana pun juga, kita tetap harus menjatuhkan pilihan/keputusan. Bahkan diam tak bersikap adalah sebuah pilihan pula. Mungkin yang bisa dijadikan pertimbangan : asal kebaikannya lebih besar dari mudhorotnya, kita bisa menjadikannya sebagai pilihan kita. Karena tak jarang kita dihadapkan pada buah simalakama.
Yang terbukti ‘keras’ dalam memberlakukan peraturan adalah Satuan Polisi Pamong Praja [Satpol PP], jadi bagaimana kalau dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja urusan Pajak [Satpol P3] ? Biar pada ‘digusur’ para pengingkar pajak dan juga dinas pemerintah yang terbukti menghambur-hamburkan dana yang dengan susah payah telah dikumpulkan melalui pajak dari rakyat.
@Moony_,
Inilah masalah di zaman kelimpahan seperti saat ini. Semuanya tersedia begitu melimpah, terutama informasi. Namun jika Anda pernah membaca buku World is Flat dan The Long Tail dan buku sejenis lainnya, bahwa proses penyajian informasi berlimpah ini sedang berlangsung dan akan terus berlangsung membuat pola yang lebih manusiawi. Google adalah salah satu contohnya. Jika Anda sedang Googling, sebenarnya Anda sedang menyusuri triliyunan informasi dari segenap penjuru dunia. Dulu, kita hampir tidak bisa membayangkan hal ini. Dalam blogosphere, sistem agregat blog dan Feed terus menyempurnakan dirinnya. Posting saya yang di sini sepertinya juga layak Anda simak. ” Matt di Technorati juga pernah berujar kalau dari sekian banyak blog pasti ada yang pas dengan kita. Jadi biarkan semua menempuhi jalannya. Teknologi dan kibijaksanaan kita akan membantunya. Tentang siapa yang akan membaca blog kita, Anda telah menjawabnya sendiri dengan memberi komentar di sini berarti jawabannya adalah ‘Anda’. Tidak semua blogger hanya ngurusin blognya sendiri-sendiri. Banyak yang saling berinteraksi bahkan untuk satu tema khusus. Banyak yang juga blog walker termasuk saya. Di samping rajin posting saya juga rajin ‘jalan-jalan’. Sewaktu ‘jalan-jalan’ inilah saya sering jegkel jika blog yang maunya rutin saya kunjungi, eh ternyata gak update-update postingannya. Berangkat dari sini saya mencoba tidak mengecewakan pengunjung blog saya ini dengan hampir setiap hari terupdate. Setiap komentar juga saya tanggapi sebagai bagian dari respek saya. Kalau masalahnya mana yang lebih populer dari yang lainnya, itu seleksi alam. Blogger selebriti tidak lahir begitu saja, tapi juga melalu proses yang menghasilkan pengakuan dari blogger lainnya atau pembaca pada umumnya. Jadi optimislah !
@ilyaZ,
Nasib lebih baik justru berpihak pada counter pulsa biasa tapi mempunyai counter lebih dari satu. Tapi jika kita tahu permainannya dan mejalankannya dengan benar dan konsisten maka hasil lebih baik tetap berpihak pada kita. Hukum alam dalam bisnis : “Kesuksesan hanya muncul dari kesungguhan yang profesional dan satu lagi, nasib baik.” Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang benar-benar berat atau pun sebaliknya. Toh semuanya adalah penggalan kisah kehidupan kita yang harus kita jalani. Cara pandang kita yang menentukan. Yang tahu berat dan tidaknya suatu pekerjaan bagi kita, ya…kita sendiri. Tapi apa pun itu, berbuat sesuatu tetap lebih baik daripada hanya berdiam diri dan pasif menunggu nasib baik runtuh di depan mata.
@Lagombres,
Tolong di baca artikel di sini : http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/06/nas04.htm. Terutama pada bagian ini : “Padahal sejatinya, singkek secara etimologis, berasal dari penggabungan dua suku kata dalam dialek suku Khek: “sin” yang berarti baru, dan “khe” yang artinya tamu. Dengan demikian, istilah singkek untuk menyebut orang-orang kelahiran Tiongkok yang baru datang di tanah Jawa.”
Dan pada bagian yang ini : “Tentu saja, munculnya istilah singkek bukan untuk para pendatang Tionghoa mula-mula, melainkan baru pada masa sesudah itu. Sebab sebutan itu diberikan oleh orang Tionghoa keturunan. Singkek adalah istilah untuk membedakan dengan babah, yakni orang Tionghoa keturunan.”
Jadi, julukan itu awalnya tanpa stereotype negatif dan berasal dari kalangan etnis Cina sendiri.
@Lagombres,
Saya 100% sependapat dengan Anda, seperti yang tertulis di paragraf terakhir : “Seharusnyalah kita tidak membedakan singkék, bulé, Jowo, Padang, Irian atau warna manusia apa pun. Profesionallah !”.
Saya justru menyalahkan sikap kami sendiri, seperti yang yang tertulis berikut ini : “Kalau akhirnya kita jauh lebih miskin dari para singkék itu atau bulé espatriat yang sekarang banyak keluyuran di negeri ini, ya… salah kita sendiri.”
Dan saya mengingatkan bahwa posting ini bukan tentang SARA, seperti yang tertulis berikut ini : “Ini bukan tentang SARA, tapi pengungkapan fakta dan peringatan atas keteledoran kita selama ini.”
Sebagai salah satu bagian dari wong Jowo, saya perlu mengingatkan sikap kami yang salah ini, bukan menyalahkan yang lain.
Saya hanya mau mengeluarkan kita dari ‘ketabuan’ ini yang kalau tidak diungkap justru berpotensi meletupkan sentimen SARA. Padahal yang salah justru kami atau tepatnya sebagian dari kami namun Anda juga harus mengakui juga bahwa ada sebagian dari etnis Cina dan espatriat yang juga salah yang mengail di air keruh.
Intinya oknum yang salah. Namun di sebagian kami, oknum itu begitu besar, sehingga kewajiban kita bersama untuk mengingatkannya. Perlu Anda ketahui, sekam kecemburuan sosial karena kesenjangan ekonomi ini di masyarakat begitu panas. Ingatlah kerusuhan Mei 98. Tujuan posting ini justru ingin meredam itu dengan membuat ‘wong Jowo’ sing sampeyan sebut goblok tadi gak goblok lagi sehingga statusnya bisa naik dan bisa mengatur, menjalankan dan menikmati pembangunan di negerinya yang harusnya gemah ripah loh jinawi ini.
Untuk sebutan singkék dan bulé, bagi kami orang Jawa Timur, itu adalah hal yang lumrah seperti kami menyindir diri kami sendiri sebagai ‘kéré munggah balé’. Tapi kalau dianggap masih gak pantas, ya mohon maaf.
Terima kasih komentarnya. Tapi tolong dibaca dengan lengkap, serta hati dan pikiran yang terbuka.
Masuk Angin
December 1st, 2007 at 8:15 pm@edratna,
Salam kenal juga bu. Saya sebenarnya sudah beberapa kali ke blog ibu edratna, tahu dari memo Paman Tyo.
Teng yu bu.
Lega
December 1st, 2007 at 8:14 pm@edratna,
Ya gitu deh, bu. Teng yu lho ibu sudi mampir.
Triple Five
November 26th, 2007 at 4:21 pm@atique,
Oh…gitu ya ? Kalau menurutku 555 keren aja lagi !
Lega
November 19th, 2007 at 11:43 pm@atique,
Yup.
Menghadapi Tsunami Bisnis
November 18th, 2007 at 9:48 am@ Paman Tyo,
Paman betul, penyakit kita memang pada tindak lanjutnya secara nyata. Banyak yang bilang kalau kita adalah bangsa yang sangat pintar di konsep tapi sangat lemah di tindakan nyatanya. Kalau saya sendiri tidak mau yang demikian. Saya tak mau jadi orang yang merugi karena hanya berada di ranah konsep. Kebaikan, kesuksesan dan kesejahteraan adanya di ranah tindakan nyata.
Esia Hijaukan Malang dan Surabaya
November 16th, 2007 at 4:21 pm@Abdul Kholis,
Yang saya tahu, sampai sekarang baru Surabaya dan Malang.
Mangga Ranum
November 14th, 2007 at 5:34 pm@Atique,
“Yang kita butuhkan hanyalah kesediaan untuk memeriksanya dengan seksama dan berkesinambungan serta berani mengambil keputusan berupa tindakan nyata.”
Jadi…
Menyelamatkan mangga yang bisa diselamatkan, membuang yang tidak bisa diselamatkan, belajar dari pengalaman itu dan bangkit lagi, tak pernah menyerah !
Akhirnya Datang Juga
November 13th, 2007 at 8:00 pm@ilyaz,
Untuk semua dari kita.
Tutup Botol Lagi
November 11th, 2007 at 5:51 pm@Thamrin,
Waduh, saya nggak jualan tutup botol bos !
Sebenarnya Kita Mampu
November 8th, 2007 at 6:39 am@Ilyaz,
Kita memang terlalu sering menyiakan-nyiakan segenap potensi yang telah dianugerahkan ALLAH kepada kita.
Murid Berdedikasi
November 6th, 2007 at 2:52 pm@Spiderman,
Betul, tapi seperti kutipan di atas : “Ada tiga unsur yang secara tak terduga dan ajaib bergabung di sini.” Jadi harus ketiga-tiganya secara inheren. Bukan dari salah satunya saja. Sudut pandang juga sangat mempengaruhi. Guru yang tegas sering dilihat oleh muridnya seperti pandangan Anda. Tapi pernahkah Anda benar-benar tahu keadaan guru Anda ? Segala yang mendasari tindakannya ? Bukan hanya dari kacamata Anda saja ? Bahwa dia harus melingkupi kepentingan yang lebih besar ? Bahwa muridnya memang bengal ? Bahwa ada kondisi yang memang memaksanya ? Tapi guru pun harus memandang dari sudut pandang muridnya juga. Semuanya memang tidak bisa dilihat hanya dengan kaca mata hitam dan putih. Pilihan tidak selalu mengenakkan. Tapi bagaimana pun juga, kita tetap harus menjatuhkan pilihan/keputusan. Bahkan diam tak bersikap adalah sebuah pilihan pula. Mungkin yang bisa dijadikan pertimbangan : asal kebaikannya lebih besar dari mudhorotnya, kita bisa menjadikannya sebagai pilihan kita. Karena tak jarang kita dihadapkan pada buah simalakama.
Tak Punya NPWP, Apa Kata Dunia ?
November 4th, 2007 at 10:57 pm@moony__,
Yang terbukti ‘keras’ dalam memberlakukan peraturan adalah Satuan Polisi Pamong Praja [Satpol PP], jadi bagaimana kalau dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja urusan Pajak [Satpol P3] ? Biar pada ‘digusur’ para pengingkar pajak dan juga dinas pemerintah yang terbukti menghambur-hamburkan dana yang dengan susah payah telah dikumpulkan melalui pajak dari rakyat.
ATM : Ancaman Terbesar Counter Pulsa
November 4th, 2007 at 9:26 pm@T_cell,
Semoga ketentuan nominal + PPN 10 % tetap dijunjung tinggi sehingga ruang bernafas counter kecil tetap tersedia secara memadai.
Muda Jadi Pengusaha, Tua Jadi Pegawai
November 1st, 2007 at 2:47 pm@CEMI,
Wa’alikum salam wr. wb.
Yup, kalau ke Malang mampir bos.
Divergensi ala Pilus Garuda
October 28th, 2007 at 7:18 pm@moony__,
Thanks bos infonya.
Hebatnya Jingle Baru Nutrisari
October 28th, 2007 at 12:43 pm@Mahimma,
Ya…gitu deh !
Kendi + Termos = Dispenser
October 23rd, 2007 at 9:08 pm@Anang,
NGAMuk versus NGAMbul
October 21st, 2007 at 12:49 pm@Paman Tyo,
Kue yang Renyah itu Bernama Blog
October 8th, 2007 at 2:28 pm@moony_,
Mungkin link yang ini bisa jadi acuan : http://jeremy.zawodny.com/yahoo/yahoo-blog-guidelines.pdf
Lippo Telecom
September 29th, 2007 at 9:49 pm@lagombres,
Kalau kategori ini diperuntukkan bagi orang pulsa. Kalau Anda tahu kinerja Lippo Telecom sekarang, Anda akan tahu maksudnya.
Kue yang Renyah itu Bernama Blog
September 26th, 2007 at 11:22 pm@Moony_,
Inilah masalah di zaman kelimpahan seperti saat ini. Semuanya tersedia begitu melimpah, terutama informasi. Namun jika Anda pernah membaca buku World is Flat dan The Long Tail dan buku sejenis lainnya, bahwa proses penyajian informasi berlimpah ini sedang berlangsung dan akan terus berlangsung membuat pola yang lebih manusiawi. Google adalah salah satu contohnya. Jika Anda sedang Googling, sebenarnya Anda sedang menyusuri triliyunan informasi dari segenap penjuru dunia. Dulu, kita hampir tidak bisa membayangkan hal ini. Dalam blogosphere, sistem agregat blog dan Feed terus menyempurnakan dirinnya. Posting saya yang di sini sepertinya juga layak Anda simak. ” Matt di Technorati juga pernah berujar kalau dari sekian banyak blog pasti ada yang pas dengan kita. Jadi biarkan semua menempuhi jalannya. Teknologi dan kibijaksanaan kita akan membantunya. Tentang siapa yang akan membaca blog kita, Anda telah menjawabnya sendiri dengan memberi komentar di sini berarti jawabannya adalah ‘Anda’. Tidak semua blogger hanya ngurusin blognya sendiri-sendiri. Banyak yang saling berinteraksi bahkan untuk satu tema khusus. Banyak yang juga blog walker termasuk saya. Di samping rajin posting saya juga rajin ‘jalan-jalan’. Sewaktu ‘jalan-jalan’ inilah saya sering jegkel jika blog yang maunya rutin saya kunjungi, eh ternyata gak update-update postingannya. Berangkat dari sini saya mencoba tidak mengecewakan pengunjung blog saya ini dengan hampir setiap hari terupdate. Setiap komentar juga saya tanggapi sebagai bagian dari respek saya. Kalau masalahnya mana yang lebih populer dari yang lainnya, itu seleksi alam. Blogger selebriti tidak lahir begitu saja, tapi juga melalu proses yang menghasilkan pengakuan dari blogger lainnya atau pembaca pada umumnya. Jadi optimislah !
Gajah vs Gajah
September 25th, 2007 at 10:29 pm@ilyaZ,
Nasib lebih baik justru berpihak pada counter pulsa biasa tapi mempunyai counter lebih dari satu. Tapi jika kita tahu permainannya dan mejalankannya dengan benar dan konsisten maka hasil lebih baik tetap berpihak pada kita. Hukum alam dalam bisnis : “Kesuksesan hanya muncul dari kesungguhan yang profesional dan satu lagi, nasib baik.” Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang benar-benar berat atau pun sebaliknya. Toh semuanya adalah penggalan kisah kehidupan kita yang harus kita jalani. Cara pandang kita yang menentukan. Yang tahu berat dan tidaknya suatu pekerjaan bagi kita, ya…kita sendiri. Tapi apa pun itu, berbuat sesuatu tetap lebih baik daripada hanya berdiam diri dan pasif menunggu nasib baik runtuh di depan mata.
Menepi Sejenak
September 24th, 2007 at 11:41 pm@Pak Asmari,
Sae pak, kalau lingsir wengi, meh ben mbengi pak
Dipangku Mati
September 21st, 2007 at 10:23 pm@Lagombres,
Tolong di baca artikel di sini : http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/06/nas04.htm. Terutama pada bagian ini : “Padahal sejatinya, singkek secara etimologis, berasal dari penggabungan dua suku kata dalam dialek suku Khek: “sin” yang berarti baru, dan “khe” yang artinya tamu. Dengan demikian, istilah singkek untuk menyebut orang-orang kelahiran Tiongkok yang baru datang di tanah Jawa.”
Dan pada bagian yang ini : “Tentu saja, munculnya istilah singkek bukan untuk para pendatang Tionghoa mula-mula, melainkan baru pada masa sesudah itu. Sebab sebutan itu diberikan oleh orang Tionghoa keturunan. Singkek adalah istilah untuk membedakan dengan babah, yakni orang Tionghoa keturunan.”
Jadi, julukan itu awalnya tanpa stereotype negatif dan berasal dari kalangan etnis Cina sendiri.
Dipangku Mati
September 21st, 2007 at 8:40 pm@Lagombres,
Saya 100% sependapat dengan Anda, seperti yang tertulis di paragraf terakhir : “Seharusnyalah kita tidak membedakan singkék, bulé, Jowo, Padang, Irian atau warna manusia apa pun. Profesionallah !”.
Saya justru menyalahkan sikap kami sendiri, seperti yang yang tertulis berikut ini : “Kalau akhirnya kita jauh lebih miskin dari para singkék itu atau bulé espatriat yang sekarang banyak keluyuran di negeri ini, ya… salah kita sendiri.”
Dan saya mengingatkan bahwa posting ini bukan tentang SARA, seperti yang tertulis berikut ini : “Ini bukan tentang SARA, tapi pengungkapan fakta dan peringatan atas keteledoran kita selama ini.”
Sebagai salah satu bagian dari wong Jowo, saya perlu mengingatkan sikap kami yang salah ini, bukan menyalahkan yang lain.
Saya hanya mau mengeluarkan kita dari ‘ketabuan’ ini yang kalau tidak diungkap justru berpotensi meletupkan sentimen SARA. Padahal yang salah justru kami atau tepatnya sebagian dari kami namun Anda juga harus mengakui juga bahwa ada sebagian dari etnis Cina dan espatriat yang juga salah yang mengail di air keruh.
Intinya oknum yang salah. Namun di sebagian kami, oknum itu begitu besar, sehingga kewajiban kita bersama untuk mengingatkannya. Perlu Anda ketahui, sekam kecemburuan sosial karena kesenjangan ekonomi ini di masyarakat begitu panas. Ingatlah kerusuhan Mei 98. Tujuan posting ini justru ingin meredam itu dengan membuat ‘wong Jowo’ sing sampeyan sebut goblok tadi gak goblok lagi sehingga statusnya bisa naik dan bisa mengatur, menjalankan dan menikmati pembangunan di negerinya yang harusnya gemah ripah loh jinawi ini.
Untuk sebutan singkék dan bulé, bagi kami orang Jawa Timur, itu adalah hal yang lumrah seperti kami menyindir diri kami sendiri sebagai ‘kéré munggah balé’. Tapi kalau dianggap masih gak pantas, ya mohon maaf.
Terima kasih komentarnya. Tapi tolong dibaca dengan lengkap, serta hati dan pikiran yang terbuka.