Archive for Cerita
June 28, 2010 at 6:50 pm · Filed under Cerita, Inspirasi Bisnis, Kuliner, Sharing
Tentang hasrat ingin tambil beda dalam era penuh persaingan. Bisnis kuliner saat ini bak cendawan di musim penghujan. Mulai dengan ’street food’ dimana-mana, hingga kuliner berkelas di resto dan hotel berbintang. Aneka menu andalan ditawarkan. Seringkali tak hanya lezat, tapi juga unik. Berharap sukses menghadirkan pengalaman kuliner yang berkesan. Maka bisnis kuliner pun tidak saja dianggap paling stabil menghadapai hantaman badai krisis (sekrisis apa pun orang tetap butuh makan), namun juga tantangan menyajikan hidangan bercitarasa dan ‘berdekorasi’ unik nan menawan serta berkelas.
Pak Ali: “Aku mau buka kios franchise nasi goreng yang beda!”
Ibu Ali: “Beda gimana? bumbunya atau bahannya?”
Pak Ali: “Cara pengolahannya!” Jawab Pak Ali mantab.
Ibu Ali: “Oh, tahapan penggorengannya?”
Pak Ali: “Gak! Nasi goreng buatanku gak digoreng, unik-kan?”
Ibu Ali: “Unik dari Hongkong?!”
Pak Ali: “Begini, nasi aku buat bisa tampil tak lengket/punel alias ‘ampyar’, selagi hangat aku aduk dengan bumbu-bumbu yang bisa menyatu (seperti preparasi membuat salad) tanpa digoreng hingga secara tampilan nampak seperti digoreng tapi sama sekali tak digoreng hingga bebas minyak dan rasa ‘lengket bawaan minyak’ di lidah serta tenggorokan. Singkat kata, selezat dan secantik nasi goreng, namun mudah dan cepat disiapkan serta tetap sehat, bagaimana?”
Ibu Ali: “Whatever-lah!”
July 30, 2009 at 11:11 am · Filed under Cerita, Inspirasi Bisnis, Kutipan

Dua orang tetangga. Sabtu. Sebuah hari yang indah. Keduanya memandang ke luar dari pintu belakang dan melihat rumputnya perlu dipangkas. Yang seorang memutuskan bermain golf dan membayar orang lain untuk memangkas rumputnya. Yang lainnya memutuskan memangkas sendiri rumputnya. Di kemudian hari, dua tetangga itu duduk di halaman belakang rumah masing-masing bersama isterinya menikmati hari yang indah dan halaman rumput yang sudah dipangkas. Kemudian tetangga yang memangkas sendiri rumput di halamannya melihat bahwa masih ada bagian kecil yang belum dipangkas dan berkata kepada dirinya, “Oh, baiklah, saya akan mengerjakan besok.” Tetangga yang lain melihat hal yang serupa di halaman rumputnya seraya memukul tangannya dan berkata, “Saya membayar mahal untuk memangkas rumput ini! Hal ini tidak bisa diterima.”
Inti cerita di atas: setiap orang lebih menoleransi kesalahannya sendiri dibanding kesalahan orang lain, terutama jika mereka membayarnya. Itu sebabnya terkadang lebih baik memusatkan proses yang sama dan membayar pihak ketiga untuk menjalankannya. Standarnya akan segera meningkat.
Lewis Campbell, Komisaris dan CEO Textron
June 2, 2009 at 4:04 pm · Filed under Blogwalking, Cerita, Opiniku, Sharing, Tahukah kamu ?

Kisahnya, baca di SINI, SANA atau SITU.
May 16, 2009 at 10:46 pm · Filed under Cerita, Jalan-jalan, Keseharian, Sharing, Tahukah kamu ?
Memungut hikmah yang terselip di tumpukan masa lalu. Pagelaran aneka hal bernuansa Malang tempo dulu, kembali di gelar di sepanjang Jalan Raya Ijen, mulai tanggal 21-24 Mei 2009. Acara rutin tahunan ini adalah rangkaian peringatan ulang tahun Kota Malang.
Dan berikut adalah foto-foto persiapannya:










Informasi lengkap event ini bisa dilihat DI SINI.
May 1, 2009 at 1:50 pm · Filed under Cerita, Kutipan

Tentang keutamaan beristighfar. Pada khutbah Jum’at ini, khotib menceritakan kisah nyata yang bukan saja menyentuh, namun juga menyadarkan sekaligus menginspirasi :
Pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal ingin menghabiskan malamnya di sebuah masjid, tetapi penjaga masjid tidak membenarkannya (dia tak kenal tu Imam Ahmad bin Hanbal). Puas Imam Ahmad bin Hanbal memujuk penjaga masjid itu, tetapi tidak berhasil.
Sehingga Imam Ahmad bin Hanbal berkata : Aku akan tidur di atas kakiku sendiri (tidur berdiri). Dan sememangnya Imam Ahmad bin Hanbal tidur dalam keadaan tersebut. Melihatkan keadaan itu, penjaga masjid tetap tidak berpuas hati, lalu di halaunya Imam Ahmad bin Hanbal keluar dari masjid tersebut.
Keadaan ini telah diperhatikan oleh seorang pembuat roti lantas timbul rasa belas kasihan terhadap Imam Ahmad bin Hanbal yang agak lanjut usianya pada ketika itu. Lalu dipelawa Imam Ahmad bin Hanbal ber’mabit’ di rumahnya pada malam itu. Dalam keadaan keduanya tidak mengenali antara satu sama lain.
Sampai di rumah si pembuat roti, Imam Ahmad di layani dengan baik dan di hormati sebagai tetamu.
Ketikamana si pembuat roti beredar untuk menyediakan ‘doh’ membuat roti, Imam Ahmad bin Hanbal mengekori dan memerhatikannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal kagum dan terkejut melihat si pembuat roti sentiasa beristighfar walaupun sibuk dengan kerja- kerjanya.
Selang pagi esoknya, Imam Ahmad bertanya kepada si pembuat roti tentang keadaannya yang sentiasa beristighfar walaupun sedang sibuk melakukan kerja.
“Alhamdulillah, saya sering beristighfar walau dimanapun saya berada dan walau keadaan apa sekalipun saya hadapi.†jawab si pembuat roti jujur.
“Adakah anda dapati apa- apa kebaikan dari perbuatanmu itu?†tanya Imam Ahmad bin Hanbal.
Maka jawab si pembuat roti, †tidak ada satu doa pun yang aku pohon kecuali Allah Subhanatu wa Ta’ala akan memperkenankan doa ku itu.â€
“kecuali satu doa….†sambung si pembuat roti.
“Doa apa?†aju Imam Ahmad bin Hanbal.
“Doa untuk aku melihat Imam Ahmad bin Hanbal.â€
Sumber :Â http://haziq-fayyadh-faheem.blogspot.com/
April 25, 2009 at 11:52 pm · Filed under Cerita, Keseharian, Opiniku

Bukan saja menghadirkan manfaat fungsional, namun juga kesan yang membekas. Ketika kecil, saya begitu terkesima dengan segerombolan pohon Asam Jawa besar menjulang peninggalan Belanda di dekat rumah, yang bila waktunya menggugurkan bunga-bunga mungilnya yang begitu banyak berserakan di jalan, membuat saya merasa seperti berada di negeri dongeng. Bunga-bunga kuning bak permadani itu berada di bawah telapak kaki saya di pagi yang cerah kala saya berangkat sekolah. Saya biasanya berhenti sejenak untuk menikmatinya. Karena entahlah, pokoknya segenap rasa gembira begitu menyeruak dalam diri saya. Memenuhi segenap relung jiwa.
Begitulah dia adanya, bunga mungil yang gugur selepas mempersiapkan buah [walau asam, namun dengan begitu banyak kegunaan], dia juga menghadirkan suasana yang begitu menakjubkan serta menyentuh [terutama bagi saya]. Dan saya sungguh ingin seperti dia, bila pada masanya hadir saya yang sebentar harus berakhir. Amien.
April 17, 2009 at 8:56 am · Filed under Cerita, Opiniku

Sepenggal kisah tentang anak-anak Indonesia yang sedang belajar berdemokrasi. Kisah ini bermula ketika Ketua Kelas mereka, Abdul, menuduh Dewan Kelas adalah anak-anak TK. Tentu saja tak ada yang salah dan perlu marah, karena mereka semua memang anak-anak TK. Namun keanehan terjadi, mereka yang tertuduh marah lalu melewati serangkaian intrik yang dikomandani Amin, Abdul dipaksa meletakkan jabatannya. Dan kemudian mereka mengangkat Wati, Wakil Ketua Kelas, menjadi Ketua Kelas Baru menuntaskan masa jabatan Abdul.Â
Selama menjabat, Wati juga memiliki para pembantu yang salah seorang di antaranya adalah Bambang yang merupakan Kepala Seksi Keamanan. Suatu ketika Bambang merasa pantas menjadi Ketua Kelas jika masa jabatan Wati telah habis. Gejala dukungan terhadap dirinya juga mulai terasa. Syahdan, menjelang akhir ‘pemerintahan’, Bambang menemukan momentumnya, terutama ketika dia dalam posisi teraniaya dan teman-temannya menunjukkan simpati yang luar biasa. Benar saja, ketika pemilihan Ketua Kelas Baru digelar [Wati juga mengajukan diri kembali], Bambang adalah pemenangnya. Adapun gelaran pemilihannya relatif baik dilakukan, walau tentu tak sempurna.
Begitulah, Bambang memimpin TK. “Pertiwi” bersama dengan wakilnya Si Yusuf hingga penuh satu periode, dengan segenap lika-likunya. Dan ketika masa jabatan habis dan prosesi pemilihan pemimpin baru kembali digelar, dengan didahului dengan pemilihan anggota Dewan Kelas yang carut-marut. Kubu Wati yang mengajukan protes ditanggapi oleh Bambang dengan mengatakan serangkaian argumentasi yang mengatakan bahwa hal yang sama juga terjadi pada pemilihan semasa Wati memimpin dan meminta kubu Wati mengajukan bukti [yang sebenarnya memang begitu parah dan tampak kasat mata terutama yang berkenaan banyaknya yang tak bisa memilih/dipaksa tak bisa memilih] dan diselingi tuduhan kalau kubu Wati tidak dewasa dan berbuat elegan [Bambang memang aneh, anak TK diminta dewasa dan elegan].
Wati pun kesal, berdiri di depan kelas dan dengan lantang mendendangkan syair lagu Exist yang legendaris itu :
Manis di bibir memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena pastinya terpana
Bujuknya rayunya suaranya
Yang minta simpati dan harapan
April 12, 2009 at 12:18 pm · Filed under Cerita, Opiniku, Sharing

Dulu yang sederhana, dulu yang kurindu. Yup, ini adalah Sekolah Dasar Negeri Jatirejo II Nganjuk, SD dimana saya menimba ilmu dan pekerti. Ketika itu, segalanya terasa sederhana. Gugus Depan Gerakan Pramuka waktu itu adalah 21 untuk putra dan 22 untuk putri, dan bukannya 1441 dan 1442. Nyaris tanpa PR apalagi acara les atau kegiatan full day lainnya. Tak ada mata pelajaran “aneh-aneh”; tak ada Bahasa Inggris atau Kewirausahaan. Jum’at sore kepramukaan dan sore hari selepas maghrib mengaji di musholla dekat rumah.
Selebihnya bermain di sawah, sungai, kebun, pekarangan rumah, mengukur jalanan dengan bersepeda. Jenis dan alat yang digunakan adalah hasil kreasi bukan membeli. Pendek kata, kita begitu riang. Berangkat sekolah tanpa beban, malah bertumpuk rindu bersua dengan teman dan kangen dongeng rakyat Bu Endang. Atau dongeng keagamaan Pak Sol. Begitulah kami yang kreatif karena riang dan senggang, bukan karena tekanan dan kesibukan.
Televisi tak menyita waktu kami, justru hujan dan bulan purnama yang membuat kami terkesima. Bukan Playstation yang kami damba, namun pasir kali dan canda riang bersama ketam sungai yang kami suka. Begitulah kisah kesederhanan keratif kami, anak desa yang mecoba melewati dan menikmati masa.
March 22, 2009 at 9:53 pm · Filed under Cerita, Inspirasi Bisnis, Opiniku, Sharing

Sebuah subyektivitas pengamatan. Ketika awal kebangkitan abad ilmiah [abad ketuhuh belas hingga menjekang akhir abad ke sembilan belas Masehi], pengagungan akan ketepatan observasi berada pada puncaknya. Sebuah kebangkitan nalar atas segala kungkungan mistik, termasuk segala doktrin gereja. Pemujaan pada metode ilmiah begitu megejala. Aneka penemuan baru dicapai. Keberasilannya ditandai dengan perumusan matematis yang buan saja benar, namun juga indah. Presisi adalah harga mati, jika pun harus berhadapan dengan kompleksitas, maka serangkaian pemberlakuan syarat batas atas suatu hukum harus dihadirkan. Analisa kuatitatif akan diajukan jika analisa kualitatif silit dihadirkan dalam persamaan-persamaan matematis yang padu. Agar penemuan tersebut bisa diterima khalaya banyak, memenuhi kaidah ilmiah dan tentu saja:mendapatkan kepastian relasi antar variabel-veariabel dan besaran-besaran yang terlibat.
Dan ketika akhir-akhir abad ke sembilan belas Masehi, Fisika Modern lahir dengan isu utama kerelatifan dan probabilitas pengamatan. Sebuah pengamatan atas suatu gejala Fisika yang melibatkan interaksi antar besaran-besaran Fisika yang ada, tak lagi bisa dipandang sebagai kegiatan absolut dan pasti. Tak lagi mungkin bagi seorang pengamat untuk sepenuhnya bertindak obyektif, karena ternyata hasil pengamatan tergantung dari kerangka acuan yang dipilih oleh sang pengamat serta hanya bisa mendekati hasil yang mungkin [bukan hasil pasti]; misalnya jika pengamat hendak meningkatkan presisi akan posisi suatu partikel maka dia harus merelakan akurasi pengukuran momentumnya [Prinsip Ketidakpastian Heisenberg]. Belum lagi perilaku partikel yang bertingga secara probabilistik.
Berdasarkan hal di atas, dalam kehidupan ternyata sebuah presisi tak cukup untuk bisa memahami semuanya. Bisa saja hal itu diterapkan pada skala normal namun itu pun harus dengan serangkaian syarat batas bisa dilakukan. Misalnya untuk formulasi Mekanika Newton untuk Gerak Jatuh Bebas masih saja harus mengabaikan faktor luar seperti gaya gesek udara, terpaan angin, gaya gravitasi benda langit yang lain, dan seterusnya. Keberhasilan memformulasikan gejala alam dalam serangkaian rumus matematis adalah sebuah kekuatan. Namun searang tak cukup lagi, fenomena dualitas gelombang-partikel cahaya, atau lebih luas lagi keterhubungan [saling gayut] antara ‘wujud’ energi-materi telah memaksa kita memandang suatu fenomena dengan faktor subyektivitas diri. Seberkas sinar/cahaya akan berperilaku sebagai gelombang jika kita sebagai pengamay memang ingin mengamatinya dalam representasi besaran-besaran gelombang. Namun cahaya juga bisa berperilaku sebagai partikel diskrit jika kita memang berkehendak mengobservasinya sebagai partikel. Begitu pula dengan materi yang tak lebih dari energi yang ‘terkurung dalam wadat’ yang kemudian kita kenat sebagai materi/zat, yang bisa saja diubah kembali menjadi energi jika mau dengan kesetaraan sebuah hukum sederhana postulat Einstein yang terkenal itu : E=mc².
Saya sendiri memandang bahwa kekuatan Fisika Modern itu ada pada keberhasilan menghadirkan mekanisme untuk mentransformasikan suatu cara pandang yang berpindah-pindah domain dan kerangka acuan. Banyak sekali hukum transformasi yang diajukan, satu yang terkenal adalah Transformasi Lorentz, dimana dimungkinkan konversi antara dua pengukuran pengamat berbeda  dalam dimensi ruang-waktu, salah satu pengamat dalam gerak konstan atas yang lainnya. Adapun tranformasi dari suatu domain ke domain yang lain, contohnya adalah Transformasi Laplace yang mentransformasikan domain-waktu ke domain-frekuensi.
Ketermampuan mentranformasikan state/keadaan ini, akan membuat sang observer bisa memandang masalah dengan lebih baik dan bijak. Ini bukan tentang ketidak-konsistenan, namun adalah usaha mengatasi keterbatasan sudut pandang.Â
Perluasan akan hal ini bisa membawa kita untuk lebih baik dan bijak agar memandang segala persoalan tidak hanya pada satu sisi. Memandang kompetitor bukan pesaing namun justru mitra dalam emningkatan kualitas produk dan layanan bisnis kita. Memandang krisis bukan sebagai penghambat sukses, namun justru membantu melakukan efisiensi. Memandang keterbatasan sebagai kendala, namun justru sebagai katalis menggali kretaivitas dengan lebih baik lagi. Memandang sasaran bisnis jangka pendek dan parsial sebagai mata rantai sasaran bisnis jangka panjang dan integralisasi keseluruhan sistem. Semoga menginspirasi.
Dan sekian Inpirasi Bisnis kita untuk kali ini.
March 22, 2009 at 2:34 am · Filed under Cerita, Opiniku, Sharing

Untung ada Maxwell. Dialah yang telah ‘menyelamatkan’ kita dari pemahaman terlampau mekanis terhadap semesta oleh Newtonian; bahwa semesta adalah mesin besar yang sepenuhnya bisa ditundukkan oleh hukum-hukum mekanika dengan kerangka acuan absolut Cartesian-nya. Adalah benar bahwa Newtonian [Mekanika Klasik] berkerja dengan baik pada alam kita [bukan terlampau mikro di skala atom, namun bukan pula terlampau makro sebesar semesta raya] dan telah menghasilkan dunia kita saat ini; bergeliatnya dunia penelitian ilmiah -hingga Revolusi Industri [dalam rentang abad tujuhbelas hingga sembilan belas Masehi]. Bertahtanya akal dan materi hingga kita memperkosa alam. Bahwa alam punya hukum yang sepenuhnya bisa ketahui dan manusia telah merasa mengetahuinya, maka persoalnya tinggal menundukkannya. Seakan tak ada lagi ranah ketidakpastian.
Hingga seorang Fisikawan Teori berkebangsaan Skotlandia, yang hanya berdasarkan olah teorinya mampu menyajikan electromagnetic theory. Yang implikasi nyatanya bisa kita rasakan sekarang dengan aneka teknologi berbasis fenomena listrik-magnet, seperti bola lampu listrik oleh Thomas Alva Edison hingga teknologi nirkabel. Dengan electromagnetic theory pula, tingkah-laku cahaya [optik] mulai terpahami.
Dan yang lebih besar lagi implikasinya adalah bahwa pada electromagnetic theory, Maxwell mengemukakan suatu entitas baru yang bukan materi, namun kehadirannya bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan tak terselesaikan dengan asumsi mekanika materi yaitu medan (field). Pengertian medan dalam Fisika adalah suatu rentang [bisa ruang/waktu bahkan dimensi apapun yang dimungkinkan dalam representasi tensor] yang masih terpengaruh oleh suatu gaya atau sebuah rentang dimana suatu besaran Fisika masih hadir. Contoh sederhananya adalah jika kita punya sebatang magnet dan sebatang besi, maka yang dikatakan sebagai medan magnet itu adalah suatu daerah yang mana padanya gaya magnet masih bisa menarik sebatang besi tadi. Keterhadiran medan bisa menerangkan fenomena alam yang tak kasat namun terasa keberadaanya. Dan ini memiliki implikasi teknis yang sangat luar biasa. Banyak fenomena yang dulunya tak terjelaskan menjadi gamblang. Dan yang lebih hebat dari itu, electromagnetic theory membuka pintu bagi perumusan lebih baik dan kompak atas penelaahan gaya-gaya selain electromagnetik yang diduga juga bekerja di alam [nuklir kuat, nuklir lemah dan gravitasi]. Teknis matematisnya adalah dasar dari tensor yang kompleks.
Karya besar kedua Maxwell adalah  Maxwell distribution yang meletakkan dasar-dasar statistik dunia atom, yang merupakan cikal-bakal special relativity dan quantum mechanics, dua pilar utama Fisika Modern, dimana dalam Fisika Modern berlaku relativitas dan probabilitas pengamatan.
Jadi Maxwell bukan saja seorang Fisikawan abad sembilan belas [13 June 1831 – 5 November 1879] yang menjadi penghubung generasi Newton dengan generasi Einstein [termasuk si genius muda Werner Heisenberg], namun juga penyelamat kita dari sikap ujub diri yang  merasa semua fenomena alam bisa diketahui dan diprediksi dengan serangkaian hukum yang kita anggap tuntas, padahal tidak sama sekali. Bahwa masih banyak yang hal yang belum kita ketahui dan bahkan ada hal yang tak mungkin sepenuhnya bisa kita ketahui, dan kita hanya mungkin memperkirakan perilakunya karena sifat bawaan probabilitas kuantum. Bahwa kita dilingkupi keterbatasan dan adanya faktor lain yang bekerja secara misteri. Orang beriman menyebutnya Hukum Tuhan, sementara yang lain menandainya sebagai Hukum Alam. Yang menjadi penghubung antar kejadian/fenomena yang terjadi di semesta kita ini. Dan telah mengantarkan Fisika pada usaha menyatukan rumusan saling keterkaitannya dan teori paduan dan bukan sebaliknya, me-mreteli. Hal ini pula telah menginspirasi disiplin ilmu yang lainnya untuk menempuh jalan yang serupa. Hingga kita menjadi lebih bijak karena berpandangan lebih holistik tidak hanya analitik, terintegrasi tidak hanya spesialisasi, respektif dan tak hanya reaktif. Terima kasih Maxwell.
Baca pula : Pertempuran Kuantum.
Next entries »