inicio mail me! sindicaci;ón

Archive for Inspirasi Bisnis

Teori Probabilitas Bisnis

Walau sama-sama tentang peluang, tapi beda penyikapan. Dalam ilmu statistik, peluang atas suatu kejadian dipaksa dikuantisasikan. Dinyatakan dalam kungkungan prosentase. Semakin tinggi prosentasenya, semakin besar pula peluang kejadian itu terjadi dan sebaliknya. Konon statistik terlahir dari rahim tempat-tempat perjudian. Sebentuk usaha dari para penjudi ulung merumuskan keberuntungannya.

Dalam ilmu statistik maupun judi, pilihan atau atribut selalu tersedia [misalnya kelereng merah danb biru dalam kantung yang jumlah masing-masingnya berbeda], lalu prosentase peluang dilekatkan padanya. Dan bila akhirnya pertaruhan harus dilakukan [prosesi pengambilan satu kelereng dari dalam kantung], maka tentu yang disarankan adalah bertaruh untuk jumlah kelereng yang lebih banyak karena padanya prosentase peluang lebih besar terlekat.

Dalam bisnis, seringkali tak demikian keadaanya. Untuk menggapai profit/untung, ada tersedia nyaris tak terhingga pilihan/atribut dalam pasar. Kita-lah yang kemudian harus memilih beberapa di antaranya saja untuk memudahkan lokalisasi tindakan. Setelah tersedia beberapa pilihan, sangatlah tidak mudah untuk melekatkan besaran prosentase pada masing-masingnya. Karena sebenarnyalah, kesuksesan itu memang berada dalam salah satu di antara pilihan yang telah kita comot tadi, bisa pula berada dalam gabungan beberapa di antaranya, atau dalam semuanya namun dengan prosentase beda-beda, dan bisa pula tidak pada semuanya. Yakni berada di luar pilihan yang kita ambil. Lepas tak tercomot. Ada kalanya hanya tersedia satu pilihan saja, dan secara ‘psikologis’ kita menilainya juga sangat kecil kemungkinan berhasilnya. Kalau memang hanya tersedia satu pilihan ini saja untuk kemungkinan sukses, walau sangat kecil maka sebenarnya bagi kita haruslah menganggapnya berpeluang 100% sukses. Tak ada cara lain. Segenap effort/upaya haruslah 100% dicurahkan padanya. Bukan saja karena terasa tak ada pilihan lain, namun dalam bisnis itu: kegagalan tak bersifat abadi. Asal kita tangguh dan tak kenal menyerah, seringkali kegagalan hanyalah jembatan sukses yang menanti.

Di samping itu, peluang dalam suatu tindakan bisnis adalah kejadian saling gayut untuk pegambilan keputusan dan tindakan berikutnya. Bila saja dalam kantong ada 5 buah kelereng merah dan 4 buah kelereng biru dan pada pertaruhan sukses adalah terambilnya kelereng merah, maka pada pengambilan pertama peluang kita adalah 5/9. Bila ternyata yang terambil adalah kelereng biru [gagal], maka bila kelereng yang telah terambil tak dikembalikan lagi ke dalam kantong [tak mengulang kegagalan yang sama seperti keledai yang terperosok lubang yang sama untuk kedua kalinya], maka pada prosesi pengambilan berikutnya, peluang sukses kita [terambilnya kelereng merah] meningkat menjadi 5/8. Kegagalan bisa dipandang sebagai upaya semakin mendekatkan kita pada sukses yang hendak dicapai.

Lalu kalau kita sukses mengambil kelereng merah, maka apakah kemudian justru menurunkan peluang kita untuk kesuksesan berikutnya? Iya kalau dalam terminologi statistik di atas. Atau paling tidak tak akan merubah peluang bila kemudian kelereng merah itu dikembalikan lagi ke dalam kantung. Namun dalam bisnis, seringkali sebuah kesuksesan akan membukakan jalan untuk pintu sukses berikutnya. Atribut sukses yang sebelumnya tersembunyi [sekumpulan kelereng merah jambu yang masuk kategori sukses dan tak terkategorikan sebelumnya]. Tapi bila kita tak menambahkan kategori sukses baru, kadang kesuksesan itu memang menurunkan peluang sukses berikutnya [dalam bisnis kita mengenalinya sebagai kondisi stagnan atau zero-growth]. Atau kalau kita benar-benar beruntung, adakalanya kesuksesan itu bisa berulang dengan nyaris tanpa batas, seperti dalam bisnis yang tingkat demand-nya stabil dari waktu-ke-waktu. Beberapa restoran dengan aneka masakan menu klasik adalah contohnya.

Semoga mencerahkan.

Semua Tak Sama, Tak Pernah Sama

Agar tak terburu mengira telah sampai pada yang dituju, tapi juga tak menyangka terlambat karena hanya jalan di tempat. Dalam meniti perjalanan bisnis (atau hidup), kadang kita dipaksa melakoni ’seperti atau serasa’ tahapan sebelumnya. Boleh dikatakan sebagai kemunduran. Mengalami kembali keadaan di masa lalu. Padahal…jika kita ingin menjadi pihak yang beruntung, maka dalam setiap hentakan langkah haruslah lebih baik dari langkah-langkah sebelumnya.

Dan ketika ternyata kita harus ‘kembali lagi’ maka yang bisa kita upayakan adalah penyikapan berbeda atas hal itu dengan jauh lebih baik. Jika kita dulu menggerutu, maka kita sekarang bisa berbaik-sangka mengakuinya dan kemudian tersenyum menghadapinya. Jika dulu kita penuh khawatir dan serba tergesa, maka kini kita hanya tenang terukir dan serba menerima dalam upaya.

Keharusan mengalami ‘kemunduruan’ mesti dinilai sebagai proses berbeda dari tahapan sebelumnya yang sekarang terulang. Karena boleh jadi ada bulir-bulir makna berbalur berkah yang belum sempat terpetik di masa lalu, hingga kita harus mengalaminya lagi. Atau kita yang membutuhkan pijakan lebih mapan agar bisa ‘melompat lebih tinggi’. Dan secara holistik, hal ini seyogyanya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan proses yang harus dijalani.

Kesadaran bahwa ’semua tak sama, dan tak pernah sama’ akan membentuk kita sebagai pribadi yang tangguh dan tetap optimis dalam badai cobaan yang menghantam. Begitulah.

Marut Klopo

Memarut kelapa: sebuah pelajaran tentang fokus, cekatan dan bertekad kuat, walau terkadang harus beriringan dengan potensi bahaya mengancam. Dua hari yang lalu, saya memasak hidangan berkuah santan. Biasanya saya menggunakan santan instan, namun saat itu saya ingin memarut daging buah kelapa sendiri dan memerasnya dengan air untuk menjadikannya santan segar.

Nah, ketika memarut itu saya teringat kala kecil saya berlomba memarut kelapa dengan almarhumah ibu. Kategori pemenangnya bukan saja memarut dengan cepat, namun bonggol daging kelapa terakhir adalah yang terkecil dan tak boleh ada kecelakaan jemari ikut terparut. Tentu saya selalu kalah dengan ibu yang memang jago masak (menurut saya, masakannya adalah yang tersedap yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya).

Dan sekarang saya menyadarinya, kalau dari prosesi perlombaan memarut kelapa ini, saya beroleh pelajaran tentang fokus pada pekerjaan, berupaya secekatan mungkin dan bersiap dengan tekad bulat yang menggumpal demi gapaian hasil yang optimal, dan dengan bijak mengakrabi risiko. Bahwa hidup tak bisa sepenuhnya bebas risiko, karena hidup itu sendiri adalah risiko. Selamat pagi kawan!

Kalkulator

30000+1200=31200+450=31650. 31650-450=31200-1200=30000. Begitulah yang dilakukan para penjaga kios dengan ‘kalkulator dagang’-nya. Yang pertama tentu untuk mendapatkan hasil, sedangkan yang kedua adalah kilas-balik untuk pemeriksaan ulang. Ketelitian dibalut kepraktisan.

Memang ada kalanya kita begitu terfokus pada pencapaian hasil. Menjumlahkan segenap usaha demi hasil yang diharapkan. Menata hasrat dan daya demi maksima. Tapi apakah optima? atau jangan-jangan ada yang terlewat? Maka tempuhan balik pun dilakukan. Menelusur ulang proses. Bukan saja demi tak terlewatinya celah, namun juga mantapnya ayunan langkah berikutnya. Sebab hati dan pikir juga perlu diyakinkan bahwa arah yang dituju bukan saja benar, namun memang sasaran yang terbaik yang bisa diusahakan. Semoga mencerahkan.

Es Kopi

Tentang sisi sebaliknya yang layak uji. Secangkir kopi, tentu lebih nyaman di-sruput manakala masih hangat. Bukan saja nikmat ketika melalui tengggorakan, namun juga harum aromanya juga mencapai tingkatan maksimal. Tak hanya indera pengecap saja yang dimanja, namun indera penciuman pun dibuatnya terlena. Dan badan pun ikut terasa hangat semangat, pikir pun terasa terang-benderang. Apalagi jika ditemani dengan pisang goreng yang juga hangat bersahabat.

Agaknya memang itu cara terbaik menikmati secangkir kopi. Tapi benarkah hanya dengan cara demikian kopi terasa nikmat? Kopi yang terlambat disikat dan terlanjur dingin akan terasa ‘hanyep’ dan berkurang nikmat. Tapi…manakala kita saring endapannya dan kita dinginkan sekalian ke dalam kulkas, maka terhadirlah es kopi yang begitu nikmat. Walau aromanya tak smerbak kopi hangat, namun segarnya terasa bak musim semi yang ceria. Dahaga pun kan sirna, semangat pun kan didapat.

Begitulah…adakalanya sisi ekstrim yang sebaliknya mampu menghadirkan sensasi tak terduga yang tak kalah nikmatnya.

Berkelok vs. Bergelombang

Ini adalah tentang kewaspadaan. Jalan lintas tengah P. Jawa sebelah barat kota Nganjuk hingga Madiun adalah jalan berkelok melalui deretan hutan Jati. Daerah ini memang rawan kecelakaan, namun ternyata yang sebelah timur kota Nganjuk hingga Jombang memiliki tingkat kecelakaan yang lebih tinggi. Padahal jalanannya lurus-lurus saja dan lebar pula. Tapi jangan salah, di balik ‘kelempengan’ itu tersembunyi bahaya laten yang mengancam. Jalanan yang lurus dan lebar justru membuat pengendara tergoda untuk memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sekaligus menurunkan kewaspadaannya (lengah dan seringkali mengantuk). Maka jika ada hal yang tak terduga, seperti orang yang menyeberang sembarangan, maka kegopohan yang sekonyong-konyong akan dengan mudahnya menjadi penyebab kecelakaan fatal. Dan faktor kejutan utama yang tersembunyi di jalanan yang nyaris seperti tol di sebelah timur kota Nganjuk ini adalah permukaan aspalnya yang bergelombang. Seringkali secara kasat mata tampak rata, namun roda kendaraan menandainya sebagai permukaan bergelombang yang berpotensi mengubah arah kemudi secara tak terduga.

Begitulah, menghadapi rintangan yang nampak jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan mengalami masalah namun tak tersadari. Maka…waspadalah…waspadalah!

Keheningan ala Chow Yun-Fat

Representasi postive-thingking kita. Yang saya suka dari karakter seorang Chow Yun-Fat adalah ketika dia memerankan tokoh bos gangster yang ‘cool’. Dalam baku-tembak yang demikian seru, ia tampil dengan begitu tenangnya, dalam balutan slow-motion yang bukan saja menawan, namun juga dramatis.

Perlahan menyibak jubahnya dan mengambil revolver di balik lipatan bajunya. Atau perlahan menjatuhkan rokok yang tengah dihisapnya untuk mulai beraksi. Kemudian dengan trengginasnya, namun tetap dalam ketenangan yang sempurna, dia menghabisi lawan-lawannya.

Inilah yang mengesankan saya: sudut pandang peritiwa dari sisi ‘hening’ hati dan pikir tokoh utama. Sebentuk harapan kita akan penguasaan penuh atas suatu keadaan bahkan dalam chaos sekalipun. Sungguh membahagiakan bila kita bisa melihat kekacauan atau kesemrawutan dengan sisi pandang yang lebih terendapkan hingga kita bisa mengolahnya menjadi sebentuk keteraturan versi kita, untuk kemudian memudahkan kita mengatasi dan menundukkannya. Di samping menyaksikan suatu kontradiksi itu memang ‘menggemaskan’. Ini semua karena kita sebenarnya sulit untuk ikhlas melepaskan kendali. Begitulah.

The Breakthrough Company

TBC

Kesan Pertama : Penerobos halangan dan himpitan
Rating : XXXXX dari XXXXX
Penulis : Keith R. McFarland
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Januari 2009

Resensi :

Buku dan kajian ilmiah tentang hebatnya perusahaan besar dalam mengarungi samuderasukse bisnisnya telah banyak dihadirkan. Begitu berjibun mulai dari kajian strategis hingga aneka tips ‘n tricks untuk mempertahankan sukses itu untuk kurun waktu yang lama.

Buku ini bukan tentang itu, tapi tentang kegigihan dan kecerdasan perusahaan-perusahan pembuat terobosan melewati masa-masa tersulit dalam arung bisnisnya. Dan ini semua tak didasarkan pada sekedar asumsi apalagi hanya analisa grafis semata, namun berdasarkan riset yang bukan saja dilakukan secara ilmiah namun juga prakmatis. Sehingga hasil kajiannya menjadi suatu solusi yang holistik sekaligus memberi gambaran yang sebenarnya.

Ada banyak kejutan dalam buku ini, berupa temuan-temuan tak terduga yang meruntuhkan prasangka dan mindset yang sangat boleh jadi selama ini kita genggam erat-erat. Dan saya tak akan menuturkannya di sini, baca sajalah! (namanya juga kejutan).

Sungguh, pengetahuan akan strategi mencegah dan atau mengatasi krisis untuk menyeruak menggapai gemilang sukses sangat berguna ketika kita dihadapkan pada situasi yang sama. [Menurut Keith, krisis itu alamiah, tak ada satu pun perusahaan yang tak pernah mengalaminya, yang membedakan di antara mereka adalah yang lulus dan yang gagal melewatinya, karenanya atau di atas saya coret menjadi atau].

Dan Keith R. McFarland tak sekedar konsultan strategi bisnis, namun juga pelaku bisnis yang juga mengalami sendiri hal-hal yang dipaparkan dalam buku ini di perusahaan yang dia pimpin. Sungguh kombinasi yang mempesona: pelaku, peneliti, konsultan sekaligus penulis. Gimana, mulai tergoda untuk membacanya bukan?

Seni Kemajuan

Seni kemajuan adalah mempertahankan kemapanan di tengah-tengah perubahan dan memelihara perubahan di tengah-tengah kemapanan.

Alfred North Whitehead

Berlian

Kesulitan punya dampak yang dapat mengilapkan talenta, yang dalam keadaan yang selalu nyaman bisa jadi terus terpendam.

Horace

Next entries »