inicio mail me! sindicaci;ón

5 Menit

Empat menit ini sepenuhnya damai
Menyusup hingga relung hati
Aku terhipnotis, tanpa bisa menangkis
Belaian musim menjelang kemarau yang miris

Ijinkan kunikmati satu menit lagi
‘Tuk mengendapkan saripati
Aku tak peduli lagi prahara apa pun yang menanti
Semua hanya menempuhi takdir diri

Memelihara Nasib Baik

Efek domino keberuntungan. Anda mungkin sempat terlena dengan menepuk dada atas kesuksesan Anda dalam memenangi sebuah kompetisi/persaingan. Mengasumsikan bahwa keberhasilan itu karena hebatnya diri. Padahal bisa saja terjadi [dan ini cenderung sering terjadi] hanya karena keberuntungan. Misalnya Anda yang sukses mendapatkan pekerjaan yang Anda damba selama ini. Dalam masa rekrutmen, bisa jadi Anda terpilih dengan tak lebih dari keacakan, tak ubahnya prosesi melempar dadu. Betapa bisa Anda jumpai bahwa sebenarnya yang setara dengan kualitas Anda atau bahkan di atas Anda sangat banyak dan cenderung berlimpah, bahkan ketika sampai ke sesi wawancara terakhir. Tapi entah mengapa, tim rekrutmen memilih Anda dan bukan yang lain. Di sini, sangat boleh jadi karena sang pewancara suka dengan cara bicara, fokus, wawasan atau bahkan hanya kerena sisiran rambut Anda.

Kemudian Anda diterima dan ditempatkan di divisi yang paling kreatif di perusahaan itu hanya karena HRD yang menempatkan Anda ke sana hanya karena divisi tersebut baru saja kehilangan salah satu stafnya karena disabotase perusahan lain. Sampai di sini, keberuntungan selalu memayungi perjalanan karier Anda. Anda patut bersyukur atas semua berkah ini. Namun ketika ternyata Anda tak cukup menunujukkan prestasi di divisi paling bergengsi di perusahaan Anda ini, sangat mungkin bagi Anda untuk dimutasi atau bahkan diamputasi. Untuk keadaan ini, Anda tak bisa lagi menyesalkan keberuntungan yang tak lagi sudi hinggap, atau menyalahkan atasan Anda atas tindakan tegasnya. Tentu yang bisa Anda tegur adalah diri sendiri, yang tak jua tersadar dari dunia impian. Bahwa tak selamanya bisa bersandar pada keberuntungan semata. Bahwa untuk sukses beruntun dibutuhkan kerja keras, ketekunan, keseriusan, kepintaran dan seterusnya, yang semuanya bisa dirangkum sebagai prestasi kerja.

Jadi peliharalah keberuntungan yang telah ada dalam wujud sukses itu dengan terus berbuat yang terbaik. Agar dia secara konsisten sudi menghampiri Anda. Lagi pula, sukses karena keberuntungan berselubung prestasi kerja lebih terasa ‘gurih’ bila dibandingkan hanya ansi keberuntungan berbalut kebetulan, fasilitas dan koneksi yang melena. Seperti masakan yang diracik dan diolah dengan prima yang kemudian mampu menghadirkan sedap bagi penikmatnya, dan bukan sekedar rasa lezat karena perut telah keroncongan atau suasana dingin musim penghujan, yang sanggup mengubah hidangan dengan kualitas pas-pasan menjadi terasa istimewa. Walu hasil akhirnya sama, yaitu nikmat/sedap/lezat, namun yang pertama adalah karena usaha internal yang bisa diusahakan oleh sang juru masak sendiri, sedangkan yang kedua lebih karena keadaan/kondisi ekternal yang kebetulan terjadi (konsumen kelaparan atau dinginnya musim penghujan). Chef yang baik adalah chef yang sanggup membuat penikmat hidangannya bersantap lahap, walau tidak dalam keadaan lapar.

Sekian Inspirasi Bisnis kita untuk kali ini.

Cerdas

black swan

Tahu bahwa Anda tidak dapat membuat prediksi bukan berarti Anda tidak dapat mengambil manfaat dari kondisi yang tidak dapat diramal itu.

The Black Swan, Nassim Nicholas Taleb

ini bukan puisi

sun flower

mengenal DIA tidak butuh kerja keras, tidak pula otak cerdas
merasakan keberadaan-NYA tak perlu puisi, tak juga gravitasi
apalagi khutbah kumal di mulut sang pembual

hanya kesedian pengakuan
dan ketulusan menikam kecongkakan
sebab DIA melekat pada tiap tatapan
tiap helaan dan hembusan nafas kehidupan

Humility

Kesahajaan yang bukan saja membuat tak tergoncangkan, namun juga nyaris tak tersentuh. Interaksi sosial kerap kali juga menghasilkan pergesekan, saling menilai bahkan saling menghakimi. Saling usil dan melongok kondisi orang lain sudah menjadi kebiasaan. Media massa dituding ikut andil dalam menyebarkan ‘budaya usil’ ini via acara-acara gosip dan sinetron. Dan saya tak hendak membahasnya.

Saya hanya tertarik pada sebuah sifat yang jika seorang individu memilihnya sebagai pakaian diri, maka dia akan terselamatkan dari sasaran dan keburukan iri dan dengki. Yang saya maksud adalah humility, kesahajaan. Pembawaan diri yang bersahaja akan memberikan aura positif yang bisa menetralisir usil, iri, dengki dan serba mau tahu usrusan orang lain. Hakekat kesahajaan adalah ketercukupan. Semua aspek dipandang dan disikapi secukupnya: tak kurang dan tak juga lebih. Ia lebih berorientasi pada pemenuhan fungsi, bukan hasrat pamer tak terkendali. Bisa terbebas dari belenggu kemelekatan atas nama kepemilikan atas sesuatu. Ujung dari penyikapan ini adalah tertempatkannya diri di domain nyaman. Tak tersibukkan oleh godaan mau tahu urusan orang lain, dan lebih memilih menuntaskan urusan diri sendiri. Kalau pun dia tergerak dengan urusan orang lain, maka hal itu dilakukan dalam konteks hendak membantu, bukan usil, mengganggu apalagi merepotkan.

Kalau sifat iri dibolehkan, saya akan mengalamatkan iri saya pada orang-orang bersahaja ini.

Antara Uang Kertas dan Uang Emas

Tak cukup hanya kesepakatan, namun juga pertimbangan kualitas. Dalam model interaksi sosial modern, kita telah menyepakati penggunaan uang sebagai alat tukar prosesi jual-beli. Kesepakatan sosial ini diyakini telah mereduksi banyak kerumitan sistem barter langsung. Dahulu banyak komunitas yang mencoba mewujudkan alat tukar itu dengan barang yang dinilai bersama sebagai barang istimewa. Faktor kelangkaan, sifat tahan lama namun pratis adalah beberapa hal yang mengemuka. Maka hadirlah emas, perak dan tembaga sebagai alat tukar. Bentuknya beraneka, namun kemudian kita menyepakatinya sebagai uang. Ada yang berberbentuk bongkah seperti uang zaman kerajaan di daratan China, namun ada pula yang lebih praktis dalam bentuk keping, yang banyak digunakan di zaman Romawi dan Persia.

Selanjutnya, atas nama kepraktisan, hadirlah uang kertas. Secara instriksik, uang kertas bagaimana pun juga tetap kertas. Karenanya jika kemudian untuk suatu pecahan mata uang besar harus dihadirkan dalam wujud selembar uang kertas, maka serangkain otoritas harus diadakan. Mulai lembaga bank sentral sebagai pemegang otoritas moneter, lembaga percetakan uang negara, hingga setumpuk perangkat hukum yang melindunginya dari upaya-upaya pemalsuan, pencucian, rush, penggoyangan nilai tukar dan seterusnya. Adapun uang emas, secara bawaan dia sudah terlindungi nilai instriksiknya sendiri. Dengan demikian, lebih mudah baginya untuk menjaga nilai tukar dirinya secara riil. Seperti yang terjadi pada dinar emas yang nilai tukarnya mulai dari zaman nabi hingga sekarang setara dengan seekor domba atau sekitar 1,4 juta rupiah untuk saat ini.

Demokrasi yang merupakan pranata sosial yang kita ciptakan demi keterwakilan suara kita juga menghadapi problema ‘uang’ ini. Pemilihan umum sebagai salah satu pilar demokrasi, sebenarnya tak lebih dari upaya mencapai kesepakatan akan siapa-siapa saja yang akan mewakili kita di lembaga-lembaga kenegaraan. Dulu kesepakatan itu bisa diupayakan dalam bentuk mufakat (lepas dari tudingan konspirasi di dalamnya) sebagai azas utama musyawarah. Dan sekarang kita lebih cenderung pada pilihan ’suara terbanyak’. Bagaimana pun juga ini cukup layak kalau disebut sebagai kesepakatan, walau itu tak datang dari semua pihak yang terlibat. Reduksi ini masih bisa diterima karena kerumitan dan kesulitan mencapai mufakat bila terlalu banyak pihak dan kepentingan terlibat, yang seringkali juga berseberangan.

Namun, menurut saya, ada yang tercecer. Ketercukupan menghadirkan pilihan yang berkualitas haruslah dengan sangat diperhatikan. Untuk kemudahan, saya memilih pilpres sebagai contoh. Mekanisme sebelum pemiliha presiden haruslah bisa menyaring calon-calon yang secara instrinsik memang istimewa, kualitas pemimpin sejati. Sehingga ketika akhirnya foto-foto mereka tercetak di surat suara, sesungguhnyalah mereka adalah emas-emas gemilang yang siap dicetak sebagai ‘uang’ yang merepresentasikan ‘nilai tukar’ komunitasnya. Bahwa nilai tukar bangsa ini harusnya tak serendah seperti saat ini. Terpuruk dalam pergaulan dunia tanpa peran berarti. Sekedar penggembira yang tak terlalu kentara namun sering menjadi limpahan masalah yang selalu mendera. Dikuras sumber dayanya, dan dijadikan sapi perahan, namun juga dipaksakan menyerap aneka produksi luar sebagai pasar bebas. Kalau yang dipilih oleh rakyat ketika pilpres semua kandidat telah memenuhi syarat instrinsik istimewa, maka ini sungguh kesuksesan demokrasi yang luar biasa. Karena yang tersisa tinggallah memilih yang terbaik dari yang baik, dan inilah inti demokrasi. Jangan sampai pemilu hanya menyediakan yang buruk-buruk untuk dipilih, hingga semua semarak prosesinya tak lebih dari eforia demokrasi tanpa isi. Dan demokrasi hanya menyentuh aspek struktural tanpa menyinggung sedikit pun substansinya, yaitu menghadirkan yang terbaik bagi komunitasnya. Agar tujuan bersama bisa teraih, dan untuk kita bangsa Indonesia, kita masih sangat ingat betul tujuan bersama kita, yaitu: masyarakat yang adil dan makmur.

Semoga.

Antara Eskalator dan Lift

Semoga hidup senantiasa berkenan menyediakan pilihan. Walau menyita lebih banyak ruang, eskalator lebih terasa ‘manusiawi’ daripada lift. Tak seperti lift yang tertutup dan sangat mungkin macet, eskalator bisa memanjakan indera penglihatan kita untuk menikmati segenap panorama yang ada. Ruang lega yang sempurna karena bantuan anak tangga yang bergerak sendiri dan menghantar kita ke tujuan. Jika pun kita berhasrat melakukan gerak badan, kaki tetap boleh mengayunkan langkah. Bagi yang tergesa, ayunan langkah dan gerak anak tangga akan menghasilkan resultan usaha yang impresif.

AlhamduliLLAH, hidup juga menyediakan bagi saya pilihan dalam memilih tempat tinggal dan tempat kerja. Hidup di Malang sangat mirip dengan naik eskalator. Segenap nyaman yang tercipta karena ‘ruang lega’ yang ada, bisa ternikmati di samping pemenuhan kebutuhan utama. Daya dukung sosial dan alam untuk hidup berkualitas saya dapatkan di Malang: alam yang sejuk nan indah, air tanah yang segar, udara yang melonggarkan pernafasan, suasana tak terlalu sepi namun juga tak terlalu ramai, walau tak berlimpah, semua terasa ada. Ketercukupan yang sempurna. Bisa merenung di pasar bunga, atau bersorak di Stadion Kajuruhan mendukung Arema. Berkeliling kota berdua dengan istri dengan nyaman di kala senja menjelang. Dan semuanya yang terasa nyaman di benak saya lainnya. Laksana berpindah antar gedung bertingkat, namun tetap dengan kelegaan yang menyenangkan. Malang bagi saya laksana sarang bagi burung, bukan saja tempat tinggal, namun juga domain nyaman dimana segenap rasa dan laju hidup terajut. Perlu proses bagi saya sebelum memastikan Malang sebagai sarang saya. Perhatikanlah burung yang hendak membuat sarang, tak asal tempat yang dia pilih, karena secara naluriah dia tahu kalau dia tak hendak hanya tinggal, namun juga merajut kisah. Saya pernah tinggal di beberapa kota besar negeri ini, namun penat dan sesak yang terasa tak mampu saya toleransi lagi. Saya tak mau tergerus oleh derap langkah kehidupan kota besar yang selalu haus tak terurus. Apa yang saya dapatkan terasa tak sebanding dengan yang harus saya korbankan.

Untuk tempat kerja saya juga dikaruniai kelegaan berbalut kenyamanan. Sebuah perusahan sendiri. Walau tak besar, saya menikmati ketercukupan di dalamnya. Dia juga menghadirkan hasrat dan semangat bagi setiap bangun pagi saya. Keluwesan, dedikasi dan semangat berbagi selalu kami usahakan pada setiap hentakan nafasnya.

Dan saya selalu bersyukur atas segala nikmat ini.

What Have We Done

Our races, united by a history long forgotten, and a future we shall face together. I am Optimus Prime, and i send this message so that our past will always be remembered.

Transformers: Revenge of the Fallen

Sengkuni, Ramapati dan Starscream

Dua jenis generasi yang selalu dihadirkan zaman. Saya terhenyak ketika Starscream berujar [pada Megatron yang terdesak dan hendak melarikan diri setalah tewasnya tuan mereka: Fallen], “Sometimes cowards do survive…”

Transformers: Revenge of the Fallen

Agaknya sang zaman selalu saja melahirkan dua anaknya dengan peringai yang selalu saja berseberangan. Di samping para kesatria, pahlawan yang diselimuti dengan segenap kebaikan dan kecermelangan, maka dari rahim sang zaman lahir pula para pecundang, pengecut licik yang diselubungi dengan aneka keburukan dan kejahatan. Dan ini ada di semua peradaban. Ada yang bilang ini pertarungan abadi di gelanggang kehidupan. Namun ada pula yang menatapnya sebagai suatu sistem kesetimbangan: Yin dan Yang. Dimana pada keduanya dinamika kehidupan dihembuskan.

Ada Kresna di barisan Pandawa, begitu pula Sengkuni di kubu Kurawa. Dalam sejarah Majapahit kita menandai muslihat Ramapati yang licik dan penuh tipu daya dalam menyingirkan Lembu Sora, Ranggalawe dan Kebo Anabrang dari sekitar Raden Wijaya. Dan dalam film Transformers perseteruan abadi ini ditandai dengan kehadiran Starscream, sang pengecut cecunguk Megatron dalam memerangi Optimus Prime dan pasukan Autobot-nya.

Menghadapi para Kurawa, Ra Kuti dan cs-nya, serta Megatron dan semua pasukannya jauh lebih mudah dilakukan. Sebab mereka secara terang-terangan memposisikan diri sebagai pihak yang berseberangan. Lain halnya dengan Sengkuni, Ramapati dan Starscream, mereka adalah ular berbisa di sekitar lingkar kekuasaan. Mereka sangat boleh jadi justru lebih berambisi. Namun dengan cerdiknya ingin ‘meminjam tangan’ orang lain untuk ‘menampar wajah’ musuh mereka yang sesungguhnya. Keberadaan mereka bisa ditandai dengan kepemilikan agenda tersembunyi yang jauh jahat dari penjahat yang mereka perguanakan sebagai alat. Mereka sebenarnyalah sangat lemah, pengecut yang selalu saja bersembunyi. Mereka adalah benalu yang membutuhkan induk semang untuk tetap survive, namun juga menggerogotinya.

Jadi…janganlah berkecil hati apalagi surut ke belakang, manakala dalam memperjuangkan kebaikan harus berhadapan dengan pihak-pihak yang menentang kita, termasuk para munafik licik itu. Tak perlu risau karena hal ini adalah fakta abadi yang selalu terjadi. Yang justru perlu dirisaukan adalah kepastian diri bahwa kita benar-benar berada di kebajikan, bukan di pihak kejahatan, apalagi menjadi Sengkuni, Ramapati atau Starscream. Jika itu sudah bisa kita pastikan, maka tetapkan langkah untuk terus maju walau siapa pun yang menghalangi.

PS.
Dalam kancah pilpres 2009 ini pun Anda bisa mengenali orang-orang yang bertindak layaknya benalu ini. Gunakan mata hati untuk mengenali mereka, maka Anda akan bisa menatap mereka dengan sangat jelas.

Membasuh Muka

pancuran

Menikmati sebuah nikmat itu sebaiknya fokus dan tak perlu tergesa-gesa. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini ketika mandi saya membasuh muka dengan busa pembersih muka yang menyegarkan. Dan saya selalu saja mendapati sensasi segar ini selepas guyuran air segar pegunungan Malang di muka yang sebelumnya penuh busa pembersi muka ini. Maka kemudian saya pun mengecap dan meresapinya sebagai nikmat yang luar biasa.

Pada suatu posting, saya pernah menyinggung perlunya melakukan Parallel Thinking. Dan ini bagus karena efektif. Namun ketika kita butuh meresapi sekumpulan nikmat yang terlimpah, kita tak usah terburu melakukannya secara serentak. Nikmati saja satu demi satu secara serial atau beruntun. Agar setiap nikmati tertandai, terasa dan termaknai dengan memadai. Karena hati itu bukan otak, dan kalimat syukur itu lebih baik terhatur untuk setiap nikmat yang melekat. Hati butuh waktu dan kondisi yang mendukung untuk mengendapkan taklimat syukur ini.

Bahkan untuk mensyukuri nikmat berupa kemampuan melakukan banyak hal bersamaan, kita perlu melakukannya hanya untuk nikmat atas kemampuan melakukan banyak hal ini saja untuk satu waktu bersyukur. AlhamduliLLAH atas kelebihan ini. Baru jika diinginkan, maka bisa dilanjutkan dengan haturan syukur untuk tiap-tiap hal yang telah sukses dilakukan secara simultan tersebut.

Sebenarnyalah tak akan bisa kita mensyukuri semua nikmat yang ada. Karena nikmat itu sungguh banyak tak terkira. Tak akan cukup waktu dan perhatian untuk meresapi semuanya. Apalagi dengan keterbatasan kita yang cenderung hanya bisa meresapinya secara serial seperti yang saya paparkan di atas. Jadi, ambillah beberapa di antaranya. Tak ada pembeda antara nikmat besar dan kecil, karena besar dan kecil adalah penilaian kita yang subyektif. Genggam sebagai pusaka. Dan satu lagi, keseluruhan perjalanan hidup juga merupakan sebuah nikmat yang perlu diresapi secara holistik tepat saat kita menjalaninya.

Semoga mencerahkan.

Next entries »