My Way
Semua orang merasa beda tentang dirinya sendiri, dengan banyak cara. Tapi pada akhirnya kita semua sama. Hanya caranya saja yang berbeda. Kau punya caramu sendiri, Benjamin.
Queenie, The Curious Case of Benjamin Button
Semua orang merasa beda tentang dirinya sendiri, dengan banyak cara. Tapi pada akhirnya kita semua sama. Hanya caranya saja yang berbeda. Kau punya caramu sendiri, Benjamin.
Queenie, The Curious Case of Benjamin Button
Walau sama-sama tentang peluang, tapi beda penyikapan. Dalam ilmu statistik, peluang atas suatu kejadian dipaksa dikuantisasikan. Dinyatakan dalam kungkungan prosentase. Semakin tinggi prosentasenya, semakin besar pula peluang kejadian itu terjadi dan sebaliknya. Konon statistik terlahir dari rahim tempat-tempat perjudian. Sebentuk usaha dari para penjudi ulung merumuskan keberuntungannya.
Dalam ilmu statistik maupun judi, pilihan atau atribut selalu tersedia [misalnya kelereng merah danb biru dalam kantung yang jumlah masing-masingnya berbeda], lalu prosentase peluang dilekatkan padanya. Dan bila akhirnya pertaruhan harus dilakukan [prosesi pengambilan satu kelereng dari dalam kantung], maka tentu yang disarankan adalah bertaruh untuk jumlah kelereng yang lebih banyak karena padanya prosentase peluang lebih besar terlekat.
Dalam bisnis, seringkali tak demikian keadaanya. Untuk menggapai profit/untung, ada tersedia nyaris tak terhingga pilihan/atribut dalam pasar. Kita-lah yang kemudian harus memilih beberapa di antaranya saja untuk memudahkan lokalisasi tindakan. Setelah tersedia beberapa pilihan, sangatlah tidak mudah untuk melekatkan besaran prosentase pada masing-masingnya. Karena sebenarnyalah, kesuksesan itu memang berada dalam salah satu di antara pilihan yang telah kita comot tadi, bisa pula berada dalam gabungan beberapa di antaranya, atau dalam semuanya namun dengan prosentase beda-beda, dan bisa pula tidak pada semuanya. Yakni berada di luar pilihan yang kita ambil. Lepas tak tercomot. Ada kalanya hanya tersedia satu pilihan saja, dan secara ‘psikologis’ kita menilainya juga sangat kecil kemungkinan berhasilnya. Kalau memang hanya tersedia satu pilihan ini saja untuk kemungkinan sukses, walau sangat kecil maka sebenarnya bagi kita haruslah menganggapnya berpeluang 100% sukses. Tak ada cara lain. Segenap effort/upaya haruslah 100% dicurahkan padanya. Bukan saja karena terasa tak ada pilihan lain, namun dalam bisnis itu: kegagalan tak bersifat abadi. Asal kita tangguh dan tak kenal menyerah, seringkali kegagalan hanyalah jembatan sukses yang menanti.
Di samping itu, peluang dalam suatu tindakan bisnis adalah kejadian saling gayut untuk pegambilan keputusan dan tindakan berikutnya. Bila saja dalam kantong ada 5 buah kelereng merah dan 4 buah kelereng biru dan pada pertaruhan sukses adalah terambilnya kelereng merah, maka pada pengambilan pertama peluang kita adalah 5/9. Bila ternyata yang terambil adalah kelereng biru [gagal], maka bila kelereng yang telah terambil tak dikembalikan lagi ke dalam kantong [tak mengulang kegagalan yang sama seperti keledai yang terperosok lubang yang sama untuk kedua kalinya], maka pada prosesi pengambilan berikutnya, peluang sukses kita [terambilnya kelereng merah] meningkat menjadi 5/8. Kegagalan bisa dipandang sebagai upaya semakin mendekatkan kita pada sukses yang hendak dicapai.
Lalu kalau kita sukses mengambil kelereng merah, maka apakah kemudian justru menurunkan peluang kita untuk kesuksesan berikutnya? Iya kalau dalam terminologi statistik di atas. Atau paling tidak tak akan merubah peluang bila kemudian kelereng merah itu dikembalikan lagi ke dalam kantung. Namun dalam bisnis, seringkali sebuah kesuksesan akan membukakan jalan untuk pintu sukses berikutnya. Atribut sukses yang sebelumnya tersembunyi [sekumpulan kelereng merah jambu yang masuk kategori sukses dan tak terkategorikan sebelumnya]. Tapi bila kita tak menambahkan kategori sukses baru, kadang kesuksesan itu memang menurunkan peluang sukses berikutnya [dalam bisnis kita mengenalinya sebagai kondisi stagnan atau zero-growth]. Atau kalau kita benar-benar beruntung, adakalanya kesuksesan itu bisa berulang dengan nyaris tanpa batas, seperti dalam bisnis yang tingkat demand-nya stabil dari waktu-ke-waktu. Beberapa restoran dengan aneka masakan menu klasik adalah contohnya.
Semoga mencerahkan.
Adakalanya dalam hidup itu tak butuh determinasi. Suatu ketika saya bermalam di rumah saudara di Karangjati, Ngawi. Keesokan paginya, kami sarapan nasi pecel. Sayurnya tak lebih dari sekedar kecambang saja. Lauknya hanya seirisan keripik tempe. Itu saja. Tapi ada yang teristimewa: nasi pecel ini dibungkus dengan daun jati. Saya agak terkejut, daun jati yang bertekstur kasar bahkan ada semacam bulu lembut dipermukaannya itu digunakan untuk ‘bunthel sego pecel’. Kalau daun pisang yang bertekstur halus dengan permukaan licin itu terasa mudah untuk mengimajinasikannya sebagai bungkus/alas nasi pecel yang biasanya menggunakan nasi yang cenderung ‘punel’. Lah…ini daun jati? Apa gak ‘gedhibel’ itu nasi?
Ternyata…ketika bungkus itu terbuka, maka menyeruaklah aroma harum nasi hangat dan sambal pecel berbaur dengan aroma khas daun jati itu. Kombinasi aromanya adalah kesan gurih yang semburat. Sungguh hebat.
Dan itu sungguh di luar jangkauan khayalan saya. Mungkin dahulunya orang yang pertama mencoba juga hanya asal pakai, karena di Ngawi dan daerah sekitar pegunungan kapur sepanjang Pulau Jawa bagian utara banyak ditanam pohon jati ini. Dan kalau kemudian menciptakan sensasi tersendiri, sangat boleh jadi dia juga mengalami keterkejutan yang sama dengan saya.
Begitulah…beberapa persoalan hidup memang bisa ‘direncanakan’. Dan menyenangkan memang bisa mendeterminasikan langkah ke depan. Dengan aneka pengalaman dan pengetahuan kita biasa melakukan hal itu. Namun, ada saatnya kita hanya mencoba lalu mengamati hasilnya. Dan manakala itu berbuah sesuatu yang hebat, menikmati sensasinya sungguh merupakan karunia tak ternilai.
Tanggung kuhampiri pagi
Tergesa kutanggalkan selimut kabut
Ada kerja yang tak boleh tertunda
Ada fungsi yang harus dimaknai
Memetik bulir-bulir embun mengalir
Menyiangi sumpah serapah di atas tanah basah
Menjaga nurani tak terbantai mati
Untuk memanen senyum di senja nanti
Agar tak terburu mengira telah sampai pada yang dituju, tapi juga tak menyangka terlambat karena hanya jalan di tempat. Dalam meniti perjalanan bisnis (atau hidup), kadang kita dipaksa melakoni ’seperti atau serasa’ tahapan sebelumnya. Boleh dikatakan sebagai kemunduran. Mengalami kembali keadaan di masa lalu. Padahal…jika kita ingin menjadi pihak yang beruntung, maka dalam setiap hentakan langkah haruslah lebih baik dari langkah-langkah sebelumnya.
Dan ketika ternyata kita harus ‘kembali lagi’ maka yang bisa kita upayakan adalah penyikapan berbeda atas hal itu dengan jauh lebih baik. Jika kita dulu menggerutu, maka kita sekarang bisa berbaik-sangka mengakuinya dan kemudian tersenyum menghadapinya. Jika dulu kita penuh khawatir dan serba tergesa, maka kini kita hanya tenang terukir dan serba menerima dalam upaya.
Keharusan mengalami ‘kemunduruan’ mesti dinilai sebagai proses berbeda dari tahapan sebelumnya yang sekarang terulang. Karena boleh jadi ada bulir-bulir makna berbalur berkah yang belum sempat terpetik di masa lalu, hingga kita harus mengalaminya lagi. Atau kita yang membutuhkan pijakan lebih mapan agar bisa ‘melompat lebih tinggi’. Dan secara holistik, hal ini seyogyanya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan proses yang harus dijalani.
Kesadaran bahwa ’semua tak sama, dan tak pernah sama’ akan membentuk kita sebagai pribadi yang tangguh dan tetap optimis dalam badai cobaan yang menghantam. Begitulah.
Lapisan tipis atau perubahan warna pada daging asap, sebagai akibat dari proses pengawetannya. Dan itu seringkali dalam waktu yang lama (slow food movement). Tentu proses yang pas tak bisa langsung diperoleh, namun ada serentetan ujicoba (yang banyak di antaranya gagal atau tak sempurna) yang harus dilewati serta serangkaian perbaikan atasnya. Menyisihkan bukan saja yang sia-sia, tapi juga yang tak optimal. Pencarian yang terbaik secara terus-menerus dan konsisten. Bahkan tak jarang hal itu berlangsung dari generasi ke generasi. Yang kemudian kita mengenalinya sebagai tradisi. Padanya terkandung bukan saja kesabaran, namun juga kecermatan. Demi citarasa absolut yang didamba. Suatu upaya ‘mengeksploitasi’ keunikan. Dan di ujungnya adalah kepantasan hasil atas suatu proses yang prima. Dan seringkali hanya dengan jalan demikianlah sebuah masterpiece atau mahakarya tercipta.
Inilah prinsip utama menghargai proses dan tak hanya berorientasi hasil semata. Walau tentu saja, proses yang optimal akan menghasilkan hasil yang juga maksimal.
Kadang orang menemukan takdirnya di jalan yang dia pilih untuk menghindarinya.
Nasi Goreng Sangrai Kelapa. Sore ini, ketika lapar menerjang di antara rintik hujan yang tak jua selesai, saya memutuskan untuk  menggoreng nasi pagi tadi. Berdasarkan bahan yang tersedia, maka prosesi kreasi pun dimulai.
Ada seperempat daging kelapa ukuran sedang di kulkas, maka saya parutlah. Ada pula empat cabe merah besar, lima butir kemiri, empat siung bawang putih, setengah genggam bulir-bulir ketumbar dan satu batok sangat kecil gula Jawa. Semua bahan ini yang blender dengan minyak goreng secukupnya. Jika saja saya punya beberapa siung bawang merah tentu menambahkannya ke dalam bumbu di atas akan melengkapkan rasa yang ada. Dan bila ada beberapa cabe rawit kering, tentu menggantikan bubuk cabe dengannya akan lebih menggigit. Sayangnya saya juga tak punya beberapa ’suwir’ daging ayam atau kambing, bila mereka tersedia, tentu nikmatnya tak terkira.
Ritual proses utama pun dimulai dengan memanaskan sedikit minyak goreng untuk menyangrai parutan kelapa. Ketika warna parutan kelapa telah berubah menjadi kecoklatan, bumbu dimasukkan untuk ‘dipaksa keluar aromanya’. Hanya bila telah tiba masanya, nasi putih ikut dimasukkan. Maka…saus tiram, garam, merica dan sedikit kecap manis bertugas menyemburatkan dan mengimbangkan rasa. Telor ceplok mata sapi di atasnya akan menyempurnakan penyajiannya.
Dan rasakan kejutan rasa sangrai parutan kelapa (yang tentu mengandung santan) akan berbadu dengan eloknya kemiri+ketumbar yang menghdirkan gurih melena. Pedas cabe dan merica akan terimbangi manis gula Jawa dan kecap manis. Berpadu dengan garam dan saus tiram adalah sang penyeimbang rasa yang sempurna. Sedangkan urusan aroma adalah tugas bawang mertah dan bawang putih.  Huh…dunia ini indah!
Enjoy the blessing. Hari ini, saya melihat banyak kupu-kupu di pekarangan rumah. Bercanda-ria di pagi yang cerah. Sumringah memamerkan sayap-sayapnya yang indah. Menawan hinggap di kuntum-kuntum bunga yang sedang merekah. Dan berserakkanlah berkah berlimpah.
Para pujangga terpesona pada kemolekkannya. Para bijak kagum pada kepasrahannya ketika menjalani kehidupannya: kala terolok dan terelak dalam wujud ulat, serta ketabahan dalam tapa kepompongnya. Seniman tertawan keindahan dalam kesimetriannya. Para penari tak kuasa melirik gemulai kepakkan sayap dan polah lakunya. Sedangkan para ilmuan takjub pada metamorfosis dan keterlibatannya pada rantai prosesi alam.
Dan saya…mengambil pelajaran darinya. Kala hidupnya tak lama lagi, dia ceria menjalani hari dan bertebaran di muka bumi menyemai putik sari. Sebentuk puncak pensyukuran karunia hidup yang tak tertandingi.
Di gemericik gerimis aku meracik
Serpihan rindu yang tercabik
Polah diammu yang mencekik
Pujaku pun sirna
Meluruh entah kemana
Dan segala menjelma biasa
Terkepung hampa mendera
Lebih sial dari sekedar binasa
Tertawan penasaran tanpa tanda
Semestinya pada seikat mawar aku manawar
Demi kehormatan tak tertampar
Atas abaimu yang hambar tersamar